Tampilkan postingan dengan label Alutsista. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Alutsista. Tampilkan semua postingan

10/20/2013

[ENGLISH SECTION] Two T-50i Jet Fighters Strengthen Indonesian Air Force



              Two T-50i Golden Eagle training fighters in aerobatic color scheme out of 16 aircraft ordered by the Defense Ministry from the Korean Aerospace Industries (KAI) Sept. 11 arrived at Iswahyudi Air Force Base in Madiun, East Java. The ministry ordered the aircraft to strengthen Indonesia’s primary weapon defense system.

            “Two out of the sixteen aircraft ordered have arrived, the remaining will arrive in stages every two weeks,” said Air Force Operational Command II commander Vice Marshal Agus Supriatna as quoted by Kompas.com after attending the arrival of the two fighters.

            He added, the remaining 14 Golden Eagle aircraft are scheduled to strengthen Iswahyudi AFB Squadron 15 by the end of 2013 to replace dozens of British-made Hawk Mk-53 aircraft bought by the government in 1980s, of which only two are still operating.

            “The Hawk Mk-53 will not be used anymore because they are already old and it’s getting difficult for us to get their spare parts. Even if available, they are very expensive,” said Agus Supriatna.

            As its predecessor Mk-53s, the T-50i Golden Eagles would be used to train fresh graduates from aviation schools before they operated the TNI AU (Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara/Indonesian Air Force) fighter jets such as Sukhoi, F-16, F-5 or Hawk 100/200.

            “The T-50i Golden Eagle are equipped with weapon systems that can be used in various missions,” Agus further explained.

            Among the weapon systems are AIM-9 Sidewinder, MK-82 bomb, BDU-33, AGM-65 Maverick, MD-20 cluster bomb and JDAM (Joint Direct Attack Munitions) smart bomb. Angkasa noted, Golden Eagle has capacity to carry 10,500 pound of weaponry.

            “Although they will be used for training, they can also be used as fighter jets. We call the T-50i Golden Eagle the F-16’s little brother,” said Agus Supriatna.

            Angkasa further noted the Defense Ministry ordered 16 supersonic Mach 1.5 Golden Eagles aircraft in two colour schemes, eight aircraft in aerobatic scheme and eight in camouflage scheme. At a glance the T-50i looks like an F-16 in a smaller scale and equipped with bubble canopy as the F-16 Fighting Falcon. Its Martin Baker ejection seat is positioned with a 17 degree angle, similar seat angle of the latest jet fighters F-35 and F-22. (ds) 
Source : Angkasa Online 

8/29/2013

[[ FOTO ]] Ada KF-X Nongol di TMII! Punya Siapa Tuh?

Kamis, 29 Agustus 2013, sejumlah alutsista berjejer di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta. Mulai dari panser, roket, hingga pesawat tanpa awak buatan dalam negeri. Ya, di tempat wisata kawasan Jakarta Timur ini tengah berlangsung pameran riset dan teknologi, sebagai bagian dari puncak kegiatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ke-18. Acara sendiri dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Presiden juga kemudian berkeliling meninjau pameran serta mencoba menaiki kendaraan tempur Komodo buatan PT.Pindad. Pameran akan berlangsung hingga hari Minggu 1 September. Nah, bagi anda yang ingin jalan-jalan sambil namun mendidik, silahkan wisata ke TMII.


Pameran ini sejatinya adalah bukti pencapaian teknologi oleh anak negeri. Berbagai macam hasil inovasi anak bangsa dipamerkan disini. Namun karena website ARC ini mengkhususkan pada military interest, maka disini kami laporkan perkembangan perindustrian persenjataan dalam negeri. Mulai dari kabar terbaru soal KFX, perkembangan KCR-60, dan lainnya. Tapi, sebelum bocorannya kami tulis, nikmati saja dulu foto-foto berikut ini.




8/18/2013

Grumman F-14 Tomcat




Pada akhir tahun 1950-an Angkatan Laut AS mengumumkan bahwa mereka membutuhkan pesawat tempur baru yang akan digunakan sebagai long range interceptor untuk melindungi armada US Navy dari ancaman serangan pesawat pembom dan peluru kendali jarak jauh Uni Soviet. Sebagai long range interceptor, pesawat tempur tersebut harus memiliki radal yang lebih hebat dan dipersenjatai dengan peluru kendali yang memiliki jarak tembak lebih jauh dari yang digunakan oleh pesawat F-4 Phantom II. Untuk menghemat biaya, Angkatan Laut AS akhirnya bergabung dalam program Tactical Fighter Experimentel (TFX) bersama Angkatan Udara AS. Dalam program tersebut, perusahaan General Dynamic bekerja sama dengan Grumman untuk membuat F-111B yang merupakan varian AL dari pesawat tempur F-111 Aardvark.




Program TFX ternyata menjadi salah satu program militer AS yang paling banyak menyedot biaya dan hasil uji coba juga ternyata memperlihatkan bahwa F-111B terlalu berat untuk dioperasikan dari kapal induk dan F-111B tidak memenuhi persyaratan yang diinginkan oleh Angkatan Laut AS. Program TFX Angkatan Laut AS kemudian berakhir setelah kongres menghentikan dana untuk program tersebut pada bulan Mei 1968.


Kegagalan program TFX tidak menghentikan langkah US Navy untuk membuat program pengadaan pesawat tempur baru. Tidak lama setelah diumumkannya pembatalan program TFX, Angkatan Laut AS meluncurkan program Naval Fighter Experimental (NFX). Dalam program NFX tersebut Angkatan Laut AS mengeluarkan spesifikasi bahwa pesawat tempur baru tersebut diawaki dua orang dan mampu terbang dengan kecepatan Mach 2,2 serta dapat pula digunakan sebagai close support aircraft. Berbekal pengalaman bekerja sama dengan General Dynamics dalam pengembangan F-111B, program NFX akhirnya dimenangkan oleh pesawat tempur hasil rancangan Grumman. Prototype pesawat ini berhasil melakukan first flight pada tanggal 21 Desember 1970 dan selanjutnya pesawat tempur tersebut diberi nama F-14 Tomcat.


Sebagai long range interceptor, F-14 Tomcat dilengkapi dengan radar AN/AWG-9 buatan Hughes yang mampu melacak 24 sasaran sekaligus dari jarak lebih dari 240 km (pada tahun 1980-an, radar AN/AWG-9 ini diganti dengan AN/APG-71 yang merupakan pengembangan dari AN/APG-70 yang digunakan oleh pesawat F-15E Strike Eagle). Sebagai persenjataan utama F-14 adalah peluru kendali udara jarak jauh AIM-54 Phoenix yang memiliki jarak tembak 180 km dengan hulu ledak seberat 61 kg (F-14 merupakan satu-satunya pesawat tempur AS yang dipersenjatai dengan peluru kendali AIM-54), peluru kendali jarak menengah AIM-7 Sparrow (dengan hulu ledak seberat 40 kg dan jarak tembak 32-50 km), dan peluru kendali jarak pendek AIM-9 Sidewinder (dengan hulu ledak seberat 9 kg dan jarak tembak 19 km). Sebagai persenjatan tambahan untuk pertempuran jarak dekat, F-14 dipersenjatai pula dengan kanon tipe gatling M61 kaliber 20mm.


Mulai dioperasikan oleh Angkatan Laut AS pada tahun 1974, operasi militer pertama yang melibatkan F-14 Tomcat adalah Operation Frequent Wind pada bulan April 1975. Dalam operasi tersebut F-14 beroperasi dari atas kapal induk USS Enterprise dan melakukan patroli udara untuk melindungi penarikan mundur Amerika Serikat dari Vietnam. Walaupun sempat ditembaki oleh meriam anti serangan udara Vietnam Utara, tetapi tidak ada F-14 yang berhasil ditembak jatuh dan F-14 sama sekali tidak bertemu dengan MiG-MiG Vietnam Utara selama operasi militer tersebut.


Selama masa operasionalnya, F-14 bisa dikatakan lebih banyak digunakan untuk mengusir pesawat-pesawat Uni Soviet yang mendekati armada Angkatan Laut AS. Namun bukan berarti F-14 Angkatan Laut AS tidak pernah digunakan dalam pertempuran udara. Tercatat setidaknya ada dua kali pertempuran udara yang melibatkan F-14 milik AS, dan keduanya terjadi di Teluk Sidra dengan melibatkan pesawat tempur Angkatan Udara Libya. Insiden pertama terjadi pada tanggal 18 September 1981 dan F-14 US Navy berhasil menembak jatuh dua pesawat Su-22 AU Libya. Sementara insiden kedua terjadi pada tanggal 4 Januari 1989 dan F-14 berhasil menembak jatuh dua MiG-23 AU Libya.


F-14 banyak digunakan oleh Angkatan Laut AS dalam sejumlah operasi militer, dan sebagian besar ditugaskan untuk misi-misi combat air patrol. Dalam Perang Teluk tahun 1991, F-14 AS berhasil menembak jatuh sebuah helikopter Mi-8 Irak yang sekaligus menjadi ‘air-to-air kills’ terakhir yang dicatat oleh F-14 Amerika Serikat. Namun dalam perang tersebut sebuah F-14 berhasil ditembak jatuh oleh peluru kendali SA-2 pada tanggal 21 Januari 1991. Pesawat tersebut diawaki oleh pilot Letnan Devon Jones dan Radar Intercept Officer (RIO) Letnan Lawrence Slade. Kedua berhasil eject dan selamat. Jones berhasil diselamatkan oleh pasukan AS, namun Slade tertangkap oleh pasukan Irak dan menjadi tawanan perang hingga akhirnya dibebaskan pada tanggal 4 Maret 1991.

           

Berakhirnya perang dingin membawa peran baru bagi F-14 Tomcat. Sejak tahun 1980-an sebenarnya F-14 juga sudah dioperasikan pula sebagai pesawat intai taktis seiring dengan dipensiunkannya RF-8G Crusader dan RA-5C Vigilante. Untuk misi intai taktis ini F-14 dilengkapi dengan perangkat TARPS (Tactical Airborne Reconnaissance Pod Systems). Pada perangkat TARPS tersebut terdapat kamera KS-87B, kamera panoramik KA-99, dan sensor infra merah AN/AAD-5A. F-14 dengan peralatan TARPS ini mulai dioperasikan pada tahun 1981. Kemudian pada tahun 1996 kemampuan TARSP ditingkatkan melalui TARPS-D yang dilengkapi kamera digital Pulnix dan selanjutnya pada tahun 1998 kembali ditingkatkan melalui perangkat TARPS-CD yang mampu memperlihatkan hasil pengintaian secara
                           

Selain kemampuan sebagai jet intai taktis, F-14 juga dilengkapi dengan kemampuan ground attack menyusul dipensiunkannya pesawat A-6 Intruder pada tahun 1997. Pengembangan F-14 dengan kemampuan serang darat ini sebenarnya sudah dimulai pada tahun 1994 dan F-14 dengan kemampuan serang tersebut dikenal dengan nama Bombcat. Varian Bombcat dilengkapi dengan kemampuan untuk membawa bom berpenuntun laser sampai seberat enam tom.


Varian Bombcat pertama kali digunakan dalam Operation Deliberate Force pada tahun 1995 di daerah Balkan, menyusul kemudian Operation Desert Fox di Irak pada tahun 1998. Pesawat tempur ini masih terus digunakan dalam Operation Allied Force di Kosovo pada tahun 1999, Operation Enduring Freedom di Afghanistan tahun 2001, dan Operation Iraqi Freedom di Irak pada tahun 2003. F-14 terus digunakan untuk mendukung operasi militer AS di Irak dan Afghanistan sampai akhirnya F-14 dipensiunkan pada tahun 2006. Sebagai pengganti F-14 Tomcat, Angkatan Laut AS kemudian memilih F-18 E/F Super Hornet.


Angkatan Udara Iran adalah satu-satunya pengguna F-14 Tomcat di luar Angkatan Laut AS. Iran memperoleh puluhan F-14 pada masa Shah Iran yang dikabarkan ikut memberikan dana kepada Grumman untuk membiaya pengembangan jet tempur ini. Pasokan suku cadang dari AS memang terputus setela Revolusi Iran pada tahun 1979, namun Iran berhasil memperoleh sejumlah suku cadang dari pasar gelap, termasuk dari beberapa negara Eropa Barat dan Israel serta dari AS sendiri melalui skandal Iran-Contra. F-14 milik Iran digunakan selama perang Irak-Iran dan dikabarkan berhasil menembak jatuh sekitar 130 unit pesawat tempur Irak. Salah satu pilot F-14 Tomcat Angkatan Udara Iran adalah Mayor Jalal Zandi yang berhasil menembak jatuh sembilan pesawat Irak dengan menggunakan F-14, termasuk dua MiG-23 dan tiga Mirage F-1. Zandi sendiri tetap berkarier di Angkatan Udara Iran setelah perang selesai, namun tewas dalam kecelakaan lalu lintas pada tahun 2001. Sampai saat ini Angkatan Udara Iran masih terus mengoperasikan F-14 Tomcat.

                        

Spesifikasi (F-14D)
Kru : 2
Mesin : 2 x 123.7 kN / 27.800 lb – thrust General Electric F-110-GE-400 afterburning turbofan engines
Panjang : 19.10m
Rentang sayap : 19.55m spread; 11.58m swept
Tinggi : 4.88m
Berat kosong : 19,838 kg
Beban take-off maksimum : 27,700 kg
Kecepatan maksimum : 2,485 km/h
Jarak tempur : 926 km radius tempur
Service ceiling : 15,200m
Senjata bawaan : 1 x 20mm M61 cannon; up to 10 x air-to-air missiles or 6,000 kg of bombs.

6/13/2013

Mengenang CN-235 Phoenix Project-Australia

 Pesawat UAE Berhasil di lease dengan syarat, dua personil ( Satu teknik dan satu Pilot ) UAE AF harus on board sebagai witness. Seingat saya untuk kedua personil UAE Mayor Jamal dan Mayor PNB Mudhafar, for some reason saat itu tdk bisa didapatkan security clearance bagi mereka berdua, utk memasuki military base di Australia. Ferry flight dari Abu Dhabi, kami lakukan, dengan pilot saya sendiri dan Erwin Danuwinata Alm, menempuh route Abu Dhabi-Bommbay- Calcuta- Bangkok-Bandung. Setelah melakukan beberapa penambahan di Bandung, seperti cargo rail dan beberapa peralataan lainnya, maka hanya dua hari setelah Lebaran kami pun mulai perjalanan.
Tujuan pertama adalah Darwin Airforce Base dengan technical landing Denpasar. Saya masih ingat, untuk memberikan kesan bahwa CN-235 is simple to operate maka kami berangkat dengan minimum number onboard. 2 Pilot, 1 Flight test Engineer Prihatno Alm, 1 Mekanik, 1 QA inspector total 5 person on board. Ditambah 2 UAE-AF Officer yang sangat menikmati mission ini. Karena tidak mempunyai security clearance maka seusai Landing disetiap AF Base mereka dikawal oleh Provost keluar base utk Tamasya dan jumpa kami lagi just prior to Departure. Logistic team IPTN berangkat terpisah dengan menggunakan airline, menuju Tulamarine Melbourne, stand by utk dispatch spare parts bilamana diperlukan di any point di Australia.
Presentation dan demo flight dilakukan di Darwin utk Salah satu Squadron Caribou yaitu “ Dingo Squadron”. Selama tiga hari beberapa Pilot berkesempatan untuk mencoba beberapa mission profile sesuai dengan mission yang biasa mereka lakukan. Termasuk diantaranya landing pada beberapa un-prepared runway, biasa mereka sebut BEEF TRACK, karena memang merupakan jalan berdebu biasa tdk didesign sebagai permanent Runway, hanya digunakan utk special mission.
Seluruh pilot DINGO yang menerbangkan merasa sangat puas dengan maneuverability maupun performance CN-235. Hal ini mungkin juga karena CN 235 merupakan “big jump” bagi mereka yang biasanya menerbangkan De Haviland Caribou yang Piston Engine, mendadak menerbangkan CN 235 yang Turbo Prop. Namun demikian dari hasil assessment, mereka cukup puas dengan STOL (Short Take Off Landing ) CN-235 yang ternyata bisa menyamai Caribou yang terkenal dengan STOL nya.
Meskipun ada beberapa saran/masukan perbaikan dan request dari mereka, seperti EYEBROW window, jendela diatas windshield yang akan memudahkan pilot dalam melakukan maneuver tajam seperti steep turn dan tactical mission lainnya. Kemudian juga hal seperti tangga yang embedded di pesawat utk membantu keperluan preflight. Semua coment dan input kami bawa pulang sebagai feed back bagi Engineering Dept di IPTN. Pada umumnya mereka sangat puas dengan performance serta agility CN 235 bahkan boleh dikatakan jatuh cinta.
Setelah Darwin kami beralih ke Townsville yang juga merupakan salah satu Basenya Caribou. Beberapa hari di Townsville kami lakukan kegiatan yang sama. Lebih banyak lagi dilakukan “Beeftrack” landing disekitar Townsville. Dan lebih banyak lagi pilot yang turut terbang “Mencicipi” CN 235 yang selama di Australia mendapat Operation Nickname “ PHOENIX” . Bahkan PHOENIX sempat dipamerkan dalam acara OPEN HOUSE bagi penduduk sekitar Townsville.
Next destination adalah Amberley, salah satu Airforce Base di sekitar Brisbane, kegiatan yang sama dilakukan, tetapi disini lebih banyak discussion meliputi logistic support dari field level sampai Depot level, mereka benar2 detail dalam pernyiapan Logistic / Spare support sampai 25 years planningnya. Di Amberley tdk terlalu banyak dilakukan flight, hanya beberapa flight itupun Joy flight bagi Project Staff Officer (Logistik dan teknik ).
Dari Amberley kami menuju Richmond Airforce Base, di sekitar Sidney. Di Richmond ini kami benar2 kerja keras karena Richmond base ini adalah pusatnya AMTDU ( Air Mobile Tactical Deployment Unit ) nya Australia, kalau di Indonesia mungkin setara dengan PERBEKUD. Selama hampir satu minggu RAAF melakukan assessment meliputi Vehicle loading Unloading, melalui Ramp Door. Agak menegangkan juga karena yg di loading adalah 6 wheels LAND ROVER yang cukup panjang sehingga kaca depan perlu direbahkan, untuk bisa loading ke dalam perut PHOENIX.
Selain itu dilakukan juga real Cargo Drop dari mulai yang terkecil A-22, sampai Heavy Cargo, bahkan dilakukan juga LAPES ( Low Altitude Parachute Extraction System ) dimana kami terbang hanya sekita2 satu meter AGL kemudian load direlease dengan Drog Chute dan kemudian Extraction Chute. Juga dilakukan Static jump utk Army, kemudian beberapa sorties freefall utk Special Force yang dilakukan di NAVY Base, Nowra.
Puas dengan seluruh type of mission kamipun kemudian menuju Canbera, utk dilakukan assessment oleh para Project Office Staff dari seluruh aspect operational, support bahkan financialnya. Diskusi disisi cukup alot karena mereka juga sekaligus mengumpulkan bahan untuk menyusun TECH SPEC yang akan digunakan sebagai Biding Requirement/ Tender.
Saingan pada waktu itu adalah G-27 (ex 222?) ALENIA Italy yang pada saat itu sebenarnya pabriknya sdh tdk exist, menanti uluran tangan salah satu perusahaan Amerika untuk take over, selain kelas pesawatnyapun terlalu besar utk Caribou replacement. Dari Canberra kami kemudian menuju AVALON, Melbourne untuk mengikuti Airshow selama sekitar satu Minggu.
Avalon mempunyai karakteristik Runway yang agak aneh, entah bagaimana sejarah designya dulu karena hampir selalu mengalami cross wind most of the time. Sangat membanggakan saat itu karena pada Airshow tersebut setiap kami melakukan Dynamic display, selalu di announce bahwa PHOENIX adalah salah satu calon pengganti Caribou, menambah optimisme kami untuk bisa memenangkan tender 2 Squadron PHOENIX.
Namun demikian kami sempat pula ditegur oleh Airshow Flight Director, pada saat melakukan Dynamic Airshow, Erwin Alm saat itu terbang sangat bersemangat, pada saat atraksi wing over 120 derajat, kami level off recovery dibawah 500 feet. Sehingga tegurannya cukup keras dan komentarnya “ That was very attractive, however, you guys were not in a fighter aircraft so you don’t have to go over the top” kami hanya tersipu2 mendapat teguran tsb, walaupun public sebenarnya sangat impressed.
Kamipun sempat mengalami pecah ban pada hari pertama show, mungkin kami terlalu excited pada hari pembukaan tersebut. Untuk membuat lebih impressed kami lakukan short landing sependek2nya tapi dng cross wind yang cukup besar un even landing membuat ban pecah pada saat braking. Thanks God kami punya teman2 logistic yang memang stand by dng spare di Tulamarine sehingga kondisi segera diatasi.
Di Avalon kami sempat bertemu beberapa pengambil keputusan ditingkat kementerian yang menyatakan malu kepada Indonesia yang mampu membuat pesawat semacam PHOENIX tsb. Sementara Australia belum punya produk lain selain kelas NOMAD.
Bahkan beberapa opposition leader seperti Shadow minister of Labour? , yang konon terkenal keras, berkomentar sangat positif bahwa beliau pribadi akan mensupport program PHOENIX. Dan tentu saja Airforce Chief of Staff ( Marshal Fischer? ) termasuk yang sangat tertarik dng ability CN-235 PHOENIX .
Seusai Airshow, tugas kami belum selesai karena masih ada lagi assessment teknis yang akan dilakukan oleh Australian ARDU ( Air Research and Development Unit ) di Edinburgh- Adelaide. Selama beberapa hari ARDU dengan test pilot Dutchy Holland dan Robin Wiiliams melakukan Assessment secara TEKNIS dalam aspect Performance, Handling quality, Mission system, termasuk NVG Demonstration disekitar lembah2 Adelaide. Memang pesawat UAE yang kami gunakan sdh NVG Compatible untuk Gen III. Sehingga beberapa kali kami melakukan night Mission under NVG Gen III sampai jam 1 pagi.
Setelah 4 hari di ARDU Facility, kami bertolak pulang ke Bandung melalui Alice Spring, Darwin dan Denpasar, mengakhiri PHOENIX mission kami selama lk 5 Minggu di Australia. Pada tahun 1997 kami kembali mengikuti kembali Avalon airshow, tetapi itu semua ternyata terasa useless karena IPTN menyatakan pull out dari PHOENIX program. Memang saat itu kami merasa sangat kecewa. Mengingat di Bandung pun teman2 sdh sudah mulai melakukan development program untuk meng improved CN-235 menjadi versi-330 PHOENIX.
Tapi apa mau dikata jangankan IPTN, negarapun saat itu berada dalam survival mode, dimana memang banyak perlu dikorbankan untuk dapat survive. Tetapi kami masih boleh bangga, karena selanjutnya IPTN yang kemudian dalam era pemerintahan Gus Dur berubah menjadi PT Dirgantara Indonesia. Berhasil keluar dari kemelut dengan berhasil mendeliver CN-235 -220 ke Malaysia, Korea, bahkan Pakistan Airforce yang tdk sedikit jumlahnya. Demikianlah ternyata tidak pernah ada pengorbanan yang sia2. PHOENIX Project tdk pernah terwujud tetapi project2 lain berhasil diraih termasuk 4 pesawat utk Korean Coast Guard pada th 2008 yl.

Demikianlah sekelumit perjalanan dalam usaha menduniakan CN-235

6/09/2013

This is it..!! Indonesian Grob G-120TP


Ada 4 pesawat yang ditampilkan ke publik pada hari ini. Keempatnya sudah menyandang livery atau cat serta penomoran khas TNI-AU. ARC mendapat informasi, ke-4 pesawat ini nantinya akan dikirim via laut. Pengiriman sendiri memakan waktu 4 minggu. Dengan demikian, diharapkan pada akhir Juni atau awal Juli, ke-4 pesawat sudah tiba di tanah air.

Indonesia sendiri memesan 18 unit Grob G-120TP. Pesawat ini nantinya akan mengganti peran pesawat Bravo yang sudah tua.

5/12/2013

Hacker Cina Coba Curi Info Pesawat Siluman Inggris

Hacker Cina Coba Curi Info Pesawat Siluman Inggris

London - Mata-mata cyber asal Cina diketahui mencoba untuk mencuri rahasia jet tempur paling canggih di Inggris. Menurut Mail Online, sebuah unit rahasia Angkatan Bersenjata Cina menggunakan senjata cyber yang sangat canggih untuk memperoleh informasi rahasia mengenai rancangan proyek Joint Strike Fighter (JSF).
Produsen Lockheed Martin mengklaim mereka menggagalkan puluhan ribu serangan komputer setiap minggu untuk menjaga rahasia tentang jet siluman supercanggih, kerja sama Angkatan Laut Inggris dengan RAF hingga 2018. Asal serangan mengarah ke Cina.
Mereka merekrut beberapa peretas muda Inggris untuk membantu menggagalkan serangan. "Kami telah merekrut tim yang sangat kuat dari teknisi komputer muda yang pada dasarnya adalah ahli dalam kontra-cyber. Mereka efektif menghabiskan banyak waktu mereka untuk perang di dunia maya melawan Cina," kata pernyataan pejabat perusahaan itu.
Pesawat JSF diyakini sebagai yang tercanggih saat ini. Pesawat itu bisa terbang ke wilayah musuh dan menarget serangan dengan senjata presisi tanpa terdeteksi, sebuah kemampuan yang belum tertandingi hingga saat ini. Pesawat ini dilapisi dengan cat khusus dan memiliki desain tersembunyi yang menyebabkannya tak mampu terbaca oleh radar.
Biro Intelijen Inggris MI5 dan FBI meyakini serangan cyber pada Lockheed Martin berasal dari sel rahasia di dalam Tentara Pembebasan Rakyat Cina. Unit ini diyakini dikelola oleh ratusan ahli komputer yang tugasnya hanya satu, mencuri informasi dari AS dan Inggris.
Akan tetapi, meskipun sejumlah bukti mendukung klaim ini, pemerintah Cina menyangkal keberadaan unit ini. Mereka juga membantah perlibat dalam spionase cyber.

Sumber :  Tempo


Korsel Berminat Borong 60 F-35A dan 60 F-15SE - Bagaimana nasib KF-X/F-33?




Pembelian sebanyak 60 buah F-35 itu dibandrol sebesar US$ 10,8 Milyar. Jumlah tersebut termasuk 9 mesin cadangan, perlengkapan sistem perang elektronik dan lain sebagainya. Termasuk juga pelatihan, dukungan serta manajerial pesawat tersebut untuk jangka waktu 15 tahun ke depan.

Sementara, untuk F-15SE, kontrak diperkirakan mencapai US$ 2,408 Milyar. Pembelian F-15SE ini nantinya melalui skema Direct Commercial Sales bukanmelalui skema FMS. Termasuk dalam deal ini adalah 60 buah radar AESA, sniper targeting system, dan berbagai dukungan logistik lainnya.
Dalam 2 buah notifikasi berbeda itu, disebutkan pula F-35A dan F-15SE nantinya akan menggantikan F-4 Korsel yang telah lama mengabdi. Dan uniknya, Amerika menyatakan, pembelian ini tidak akan mengubah keseimbangan militer di kawasan semenanjung Korea.
Bagi Indonesia, pembelian ini bisa menjadi tanda tanya. Apakah dengan demikian maka program KFX/IFX benar-benar batal?, atau malah pembelian ini nantinya akan mendukung program KFX/IFX?. Karena pada awalnya, dikabarkan alasan Korsel mengadakan program FX-III salah satunya adalah untuk mengambil teknologi yang ada untuk dicangkokkan pada KFX. Dengan kata lain, pada skema ToT di FX-III, maka KFX akan mendapatkan teknologi yang belum dikuasai baik oleh Korsel maupun Indonesia. Mari kita tunggu saja kejelasannya.

Prediksi Alutsista di Tahun 2013 - Versi ARC



Seperti kita ketahui, tahun 2012 ramai dan gaduh mengenai pengadaan alutsista. Salah satu yang paling menarik perhatian dan simpang siur adalah mengenai pengadaan MBT Leopard II. Dan hingga kini, pengadaan monster lapis baja itu pun masih belum jelas. Lalu, bagaimanakah nanti gegap gempita perkuatan TNI di bidang Alutsista pada tahun 2013?.

Berikut adalah beberapa diantaranya. Namun, kami ingatkan, ini hanyalah prediksi. Segala sesuatunya masih bisa berubah dengan berjuta alasan. Salah satu anekdot di ARC adalah, jika barangnya belum sampai, belum difoto narsis, maka jangan percaya 100% dulu. Tapi, paling tidak inilah sedikit gambaran.
TNI Angkatan Udara
1. Pesawat latih mula Grob. Setelah mengalami kemunduran, diperkirakan pesawat latih Grob G-120TP akan di roll out pada bulan maret. Pada medio Januari-Februari, kemungkinan akan dikirim teknisi dan pilot untuk mengawaki pesawat tersebut.
2. Pesawat latih T-50i dari Korea Selatan juga diperkirakan akan tiba pada 2013. Bahkan foto-foto pesawat calon pengganti Hawk Mk-53 itu sudah beredar dengan kelir aerobatik.
3. Persenjataan Sukhoi diduga juga akan tiba pada tahun 2013. Indikasinya, beberapa pilot dari sarang Thunder telah dikirim untuk berlatih di Rusia. Apa saja jenisnya? sebaiknya kita tunggu saja penampakannya.
4. Disisi lain dari publikasi Kemhan, terungkap rencana pengadaan pengadaan Helikopter super puma (NAS-332C1) VVIP sebanyak 2 unit senilai 460 Milyar, hibah Hercules senilai 440 Milyar serta Upgrading Falcon star untuk F-16 sebanyak 10 unit senilai 270 Milyar
TNI Angkatan Darat
1. Pada Januari atau selambatnya Februari, senjata anti tank NLAW diperkirakan akan tiba. Saat ini senjata tersebut tengah dipersiapkan untuk pengiriman.
2. Menindak lanjuti kontrak yang telah ditanda tangani, Meriam Caesar 155mm serta roket Astros diperkirakan akan tiba pada pertengahan tahun 2013. Jika tidak ada aral melintang tentunya.
3. Untuk melengkapi kedatangan Caesar, pada 2013 juga akan dilakukan pengadaan pengadaan Radar range finder untuk satuan armed, sebanyak 2 unit senilai 27,8 Milyar. Juga akan dilengkapi Sta Meteo, relay beserta alat kelengkapannya. Rencananya, pengadaan alat-alat diatas akan melibatkan Pindad sebagai penyedia platform, yaitu berupa Rantis Komodo.
4. Diperkirakan alutsista Arhanud juga akan tiba pada tahun 2013. Diantaranya rudal Mistral serta Starstreak. Khusus untuk mistral, akan dilakukan juga pengadaan 56 unit Rantis Komodo sebagai pembawa rudal tersebut.
5. Pengadaan lanjutan Panser Anoa serta helikopter jenis NBell-412.
TNI Angkatan Laut
1. Serah terima KRI Beladau dari jenis KCR-40 diperkirakan akan dilakukan pada awal tahun 2013.
2. Kelanjutan program Multi Role Light Fregate (MLRF) dari jenis Nahkoda Ragam Class. Saat ini Mabes TNI-AL sudah menyiapkan Satgas untuk menjemput serta pelatihan awak kapal tersebut.
3. Uji terbang CN-235 Patroli Maritim pesanan TNI AL buatan PT.DI direncanakan akan berlangsung pada awal tahun 2013. Namun, kemampuan sesungguhnya dari pesawat ini masih belum jelas benar. Tunggu ARC datang dan memfoto pesawat kebanggan buatan dalam negeri ini nanti.
4. Pembangunan Trimaran ke-2 akan dilakukan juga pada 2013. Akan tetapi mengenai bahan maupun spesifikasinya secara jelas belum bisa diperoleh.
5. Data dari Kementrian Pertahanan juga menyebutkan kelanjutan program TNI-AL di tahun 2013. Diantaranya pembangunan platform KCR 60 M Lanjutan senilai 169,78 Milyar, Pengadaan Heli Angkut Bell-412 Tahap 2 lanjutan senilai 88,93 Milyar serta pengadaan Kapal Bantu Cair Minyak Lanjutan senilai 107,50 Milyar. Selain itu ada pula pengadaan Ranpur Amfibi jenis baru untuk Marinir.

Namun demikian beberapa alutsistaa lagi masih menunggu kepastian yang benar-benar pasti. Diantaranya:
  1. kontrak pengadaan Leopard
  2. Pengadaan heli serang Apache (atau bukan Apache)
  3. ATGM Tambahan jenis lain
  4. Heli AKS untuk TNI-AL
  5. Helikopter Serang Fennec, 
  6. Pengadaan meriam KH-179 dan LG Mk3, dan lain sebagainya
Demikian beberapa prediksi yang akan tampil pada tahun 2013 nanti. Kita tunggu saja kejutan-kejutan di tahun 2013. Toh.. hidup terasa kurang seru jika tanpa kejutan.
Sumber : Angkasa Readers Community

Penantian Menyongsong Sang Elang Emas


T-50i pesanan Indonesia (photo: Korea aero)

Perjalanan panjang dalam menentukan pesawat pengganti Hawk Mk-53 yang sudah memasuki masa pensiun bagi TNI AU sendiri merupakan masa yang sangat melelahkan. Batapa tidak, apabila untuk urusan pesawat tempur dan pencegat keputusannya relative lebih cepat difinalisasi, tidak demikian halnya bagi kandidat pesawat latih lanjut TNI AU. Hal ini juga memberikan suatu tekanan psikologis bagi para penerbang maupun awak teknisi Skadron Udara 15, karena praktis mereka harus menunggu kepastian pengganti Hawk Mk-53 yang secara kesiapan sudah menurun dan kondisinya dibawah standar. Dari delapan unit yang ada hanya 2 unit yang laik terbang. Padahal di pundak Skadron Udara 15 terletak beban untuk mencetak para pilot pesawat tempur TNI AU. Dampak dari embargo suku cadang oleh Inggris dan juga utilisasi pesawat yang sangat tinggi merupakan salah satu faktor penyebabnya.


Embargo yang diberlakukan kepada Indonesia dengan alasan kejahatan kemanusiaan di Timor Timur paska referendum pada tahun 1999 oleh Amerika dan sekutunya, tak terkecuali Inggris sebagai sekutu utama Amerika dan sebagai produsen pesawat Hawk Mk-53 dan Hawk 109/200, memiliki andil utama dalam menurunnya kesiapan dan kesiagaan asset udara TNI AU. Bagi TNI AU dampak yang dirasakan langsung adalah embargo terhadap suku cadang seluruh pesawat tempur buatan BAe Inggris ini. Sementara disisi lain  pesawat hawk Mk-53 sebagai pesawat advanced jet trainer bagi para calon penerbang tempur TNI AU tetap dituntut agar terus mampu mencetak penerbang-penerbang tempur handal, memiliki skill yang tinggi dan ketrampilan yang terlatih dengan kesiapan terbang yang tinggi bagi para penerbangnya,  meskipun dengan jumlah pesawat yang minim. Selain itu diharapkan regenerasi para penerbang tempur tetap dapat berjalan dengan baik. Tuntutan profesionalisme dengan modal dan sarana pendukung yang serba terbatas pada waktu itu merupakan masa-masa sulit bagi TNI AU.

Akan tetapi dimasa sulit tersebut cobaan demi cobaan terus mendera silih berganti, satu persatu paska embargo terjadi sejumlah incident ataupun accident. Beberapa pesawat yang dioperasikan TNI AU jatuh ketika melaksanakan tugas rutin maupun latihan, seolah-olah menunjukan bahwa sehebat apapun pesawat yang kita miliki tidak akan bisa berbuat apa-apa tanpa adanya perawatan yang memadai dan pasokan suku cadang yang lengkap dari produsen pesawat. Meskipun dalam beberapa insiden kecelakaan tidak seluruhnya akibat dari kesalahan atau masalah teknis pesawat itu sendiri, namun demikian secara moril sebagai manusia biasa tentunya ada rasa cemas ketika terbang dengan pesawat yang memiliki keterbatasan baik dalam segi perawatan rutin maupun suku cadang. Pasca embargo tahun 1999 insiden diawali dengan jatuhnya pesawat Hawk Mk-53 pada 28 Maret 2000 di Lanud Iswahyudi Madiun. Menyusul pada Juli 2000 pesawat A-4 Skyhawk jatuh saat melaksanakan patrol rutin di Sulawesi Selatan, kemudian pada tanggal 21 November 2000 kecelakaan kembali terjadi dan menimpa pesawat Hawk yang jatuh di Pontianak.

Pada tanggal 28 Maret 2002 cobaan dan pukulan berat kembali harus dialami oleh TNI AU khusunya Skadron Udara 15 ketika 2 pesawat Hawk Mk-53 yang sedang melakukan sesi latihan Aerobatik Jupiter Blue bersenggolan di udara pada ketinggian sekitar 2000 kaki dan jatuh masih di kawasan Lanud Iswahyudi Madiun. Pada awalnya ketiga pesawat Hawk Mk-53 sedang melakukan manuver Victory Loop yaitu manuver ke delapan dari sebelas manuver yang rencananya akan dipertunjukan pada acara Open Day yang akan digelar pada 30 Maret 2002 di Lanud Iswahyudi. Sayangnya belum juga manuver tersebut selesai dilakukan petaka terjadi. Sehebat apapun pesawat dan penerbang tidak ada satupun yang bisa melawan takdir Tuhan. Akibat dari musibah tersebut 4 penerbang gugur, yaitu ; Kapten (Pnb.) Andis “Lavy” Solikhin Machmud (35) dan Kapten (Pnb.) Weko Nartomo Soewarno (33), awak Hawk nomor ekor TT 5310; Mayor (Pnb.) Syahbudin “Wivern” Nur Hutasuhut (35) dan Kapten (Pnb.) Masrial (33), awak Hawk nomor ekor TT 5311. Merupakan kehilangan besar bagi Skadron Udara 15, terlebih kehilangan penerbang-penerbang terbaiknya yang tidak terukur nilainya. Acara Open Day dibatalkan dan demi menghormati para penerbang yang gugur Lanud Iswahyudi mengibarkan bendera setengah tiang.

Peristiwa demi peristiwa getir yang dialami TNI AU khususnya Skadron Udara 15 tidak mematahkan semangat mereka. Perbaikan dan pembenahan terus dilakukan bahkan wacana penggantian pesawat Hawk Mk-53 terus bergulir dengan dilakukannya kajian-kajian terhadap calon pesawat pengganti oleh pihak TNI AU sendiri dalam hal ini selaku user dan Departemen Pertahanan (Dephan).

Angin Segar itu Berhembus

Tekad TNI AU untuk memensiunkan pesawat Hawk Mk-53 dan diganti dengan pesawat baru sudah bulat, hal tersebut tertuang dalam rencana strategis (Renstra) 2005-2009 Mabes TNI AU yang berencana melakukan penggantian sejumlah alutsistanya, seperti OV-10 Bronco, F-5 Tiger, pesawat angkut Fokker-27, Helicopter  Sikorsky dan tentunya Hawk Mk-53. Angin segar pun berhembus ketika KSAU Marsekal Herman Prayitno pada waktu itu, bertemu langsung dengan Dubes Ceko untuk Indonesia Pevel Rezac di Mabes TNI AU Cilangkap Jakarta pada awal November 2007. Hal tersebut terkait dengan pihak TNI AU yang mengajukan pengadaan pesawat tempur latih Aero L-159 ALCA buatan Republik Ceko sebagai pengganti Hawk Mk-53.  Secara umum kunjungan Rezac bertujuan untuk menindaklanjuti kesepakatan kerjasama pertahanan antara RI dan Rep. Ceko yang telah ditandatangani pada tahun 2006, selain itu dibahas pula kemungkinan pembelian Aero L-159 ALCA oleh TNI AU.

Pada waktu itu keinginan TNI AU memilih Aero L-159 ALCA sebagai pengganti Mk-53 bukan suatu pilihan yang tanpa pertimbangan, sebab pesawat tempur latih buatan Aero Ceko ini memadukan tekhnologi barat dan timur dan dianggap cocok sebagai pesawat tempur latih yang diperuntukkan bagi calon penerbang-penerbang tempur TNI AU. Terlebih lagi saat ini TNI AU mengoperasikan pesawat tempur yang menggunakan teknologi barat dan timur, yaitu untuk blok Barat sendiri terdapat pesawat tempur  F-16, Hawk 100/200, Hawk Mk-53 dan F-5, sedangkan untuk blok Timur TNI AU mengoperasikan pesawat tempur Su-27 dan Su-30.

Proses rencana penggantian pesawat Hawk Mk-53 terus bergulir dan sederet jenis pesawat pengganti Hawk Mk-53 pun mulai bermunculan diantaranya Alenia Aermacchi M-346, Yakovlev Yak 130 buatan Rusia, FTC2000 buatan China, Aero L-159 buatan Ceko, T-50 Golden Eagle buatan Korea Selatan dan deretan nama-nama lain yang dijadikan pertimbangan TNI AU sebagai bahan kajian. Namun sampai dengan pergantian KSAU dari Marsekal Herman Prayitno kepada Marsekal Subandrio yang dilantik sebagai KSAU pada 28 Desember 2007 pesawat yang dipilih sebagai pengganti Hawk Mk-53 belum juga diputuskan. Pada masa jabatan KSAU Soebandrio proses kajian pembelian pesawat pengganti Hawk Mk-53 terus berlangsung,  namun sampai dengan jabatan beliau selaku KSAU diserah terimakan kepada pejabat KSAU baru yakni Marsekal Imam Sufaat yang resmi menjabat sebagai KSAU pada 12 November 2009 keputusan pengganti Hawk Mk-53 masih juga belum jelas.
Disela-sela suatu acara di Lanud Halim Perdana Kusuma pada Rabu (7/4/2010), KSAU Marsekal Imam Sufaat mengatakan bahwa TNI AU telah menyeleksi empat jenis pesawat sebagai pengganti Hawk Mk-53 dan keempatnya akan memasuki seleksi akhir sebelum penentuan final.  Keempat tipe pesawat yang lolos ke seleksi tahap akhir adalah Yakovlev Yak 130 buatan Rusia, FTC2000 buatan China, Aero L-159 buatan Ceko dan yang terakhir tentu saja T-50 Golden Eagle buatan Korea Selatan. Masih dikesempatan yang sama, saat itu KSAU juga berharap pada akhir bulan sudah bisa ditentukan mana yang lebih dibutuhkan dari keeempat jenis pesawat tersebut. Angin segar kembali berhembus seolah membawa harapan baru bagi TNI AU khsususnya Skadron 15 untuk segera mendapatkan pengganti bagi Hawk Mk-53.

Mencari yang Terbaik 

Yakovlev Yak 130 merupakan pesawat jet latih subsonik buatan Rusia yang mulai terbang perdana pada 26 April 1996, Yak 130 sendiri mempunyai 2 varian yakni advanced trainer dan light attack atau pesawat tempur ringan dimana perbedaan varian tersebut terlihat jelas pada seater atau tempat duduk,  untuk varian Advanced Trainer pesawat dilengkapi dengan double seater/tempat duduk ganda, sedangkan untuk varian Light Attack hanya terdapat single seater/tempat duduk tunggal. Varian light attack memiliki bentuk hidung lebih pipih untuk menambah bidang pandang bagi pilot saat menukik untuk melepaskan roket atau bom. Namun demikian untuk varian Advanced Trainer apabila suwaktu-waktu dibutuhkan juga dapat berperan sebagai pesawat Light Attack.  Saat ini tercatat Angkatan Udara Rusia sendiri mengoperasikan beberapa pesawat Yak 130, Angkatan Udara Algeria dan Angakatan Udara Belarusia.


Yak-130 (photo : wartech-military.blogspot)


Opsi berikutnya adalah pesawat L-159 buatan Rep. Ceko, sama halnya Yak-130 pesawat ini juga dibuat dalam dua versi yaitu versi trainer dengan tempat duduk ganda dan versi LCA (Light Combat Aircraft) dengan tempat duduk tunggal.  Menengok ke dalam ruang kokpit terdapat dua layar tampilan serta HUD (Head Up Display) yang mendominasi panel kokpit. Pesawat ini juga dilengkapi dengan radar Grifo L keluaran pabrikan FIAR, Italia. Alat pengendus berkemampuan multi misi ini dapat menandai delapan belas sasaran sekaligus yaitu delapan sasaran di udara dan sepuluh sasaran di darat, kemudian kelengkapan lain adalah Radar Warning Receiver (RWR) Sky Guardian-200 buatan GEC-Marconi yaitu perangkat yang berfungsi sebagai penangkap gelombang radar lawan.  Belum lagi Vinten Vicon 78 plus chaff dan flares yaitu sistem anti jamming yang diperuntukkan untuk menghadapi perang elektronik. Dan masih banyak lagi perangkat-perangkat unggulan dan canggih yang menempel pada tubuh L-159 yang memang dibuat menyesuaikan tekhnologi dan perkembangan perang modern. Pengguna utama pesawat ini adalah Angkatan Udara Ceko yang digunakan sejak periode 1990-an. Sangatlah wajar apabila saat itu TNI AU melalui KSAU Herman Prayitno berkinginan untuk membeli pesawat ini sebagai pengganti Hawk Mk-53 dengan melihat berbagai peralatan dan teknologi canggih yang melengkapi L-159. Harga L-159 pada waktu itu berkisar antara 15 – 17 juta dolar Amerika.

L-159 versi Trainer & LCA (photo : Defense Industry Daily)

Dari negeri Tirai Bambu, adalah Guizhou JL-9 atau lebih dikenal dengan FTC-2000 Mountain Eagle (Shanying) pesawat tempur dengan tempat duduk ganda/double seater hasil pengembangan dari Guizhou Aircraft industry Corporation, China.  Pesawat ini turut memeriahkan bursa calon pengganti Hawk Mk-53 TNI AU. Pada awalnya pengembangan pesawat FTC-2000 dikhususkan bagi kebutuhan People's Liberation Army Air Force (PLAAF) dan People's Liberation Army Naval Air Force (PLANAF) untuk mempersiapkan para pilotnya dalam menyongsongf pesawat generasi baru China, seperti Chengdu J-10, Shenyang J-11, Sukhoi Su-27SK dan Sukhoi Su-30MKK. Konon kabarnya pesawat buatan China ini diproduksi dengan jumlah terbatas.  


FTC-2000 (photo: airwar.ru)

Kontestan berikutnya yang masuk pada tahap seleksi akhir beserta tiga kontestan lain adalah pesawat T-50 Golden Eagle buatan Korea Selatan. Pada awalnya pesawat ini lebih dikenal dengan KTX-2 pesawat latih dan tempur ringan yang diproduksi dan diperuntukan bagi Republik of Korea Air Force (RoKAF) yang sekaligus sebagai pengguna utama. Penerbangan perdana T-50 dilakukan pada Agustus 2002 . Pesawat latih supersonik dengan harga 21 juta dolar Amerika pada tahun 2008 ini menjanjikan banyak fitur canggih didalamnya. Mungkin atas pertimbangan hal ini pula yang menyebabkan TNI AU mengikut sertakan T-50 dalam deretan empat besar pesawat bakal pengganti Hawk Mk-53 yang memasuki tahap seleksi akhir.

T-50 Golden Eagle (photo : www.airforce-technology.com)


Akhir Sebuah Penantian
Penantian panjang akan sebuah jawaban terkait pembelian pesawat pengganti Hawk Mk-53, sedikit mulai terkuak manakala pemerintah melalui Menhan Purnomo Yusgiantoro mengungkapkan bahwa pemerintah Indonesia akan melakukan pembelian 16 pesawat atau 1 skadron T-50 Golden Eagle dari Korea Selatan, hal tersebut diungkapkan Menhan usai menghadiri Rapat Kekuatan Indonesia di ASEAN di kantor Wakil Presiden pada Rabu 13 April 2011. Praktis dengan demikian terjawab sudah pemenang dari ke empat kandidat tersebut yaitu pesawat T-50 Golden Eagle dari Korea Selatan.
Kontrak pembelian T-50I (photo: korea aero)

Ungkapan Menhan tersebut akhirnya dapat diyakini kebenarannya dengan ditandatanganinya kontrak pembelian 16 pesawat T-50 senilai 400 juta dolar Amerika pada tanggal 25 Mei 2011 antara Indonesia dan Korea Selatan yang masing-masing dilakukan oleh Menhan Purnomo Yusgiantoro selaku wakil dari pemerintah Indonesia dan pihak dari KAI (Korea Aerospace Industries) mewakili pemerintah Korea Selatan dan sekaligus sebagai produsen pesawat. Jika tidak ada aral melintang keseluruh pesawat T-50 tersebut keseluruhannya akan tiba di Indonesia secara bertahap di tahun 2013 ini dan diharapkan pada tahun 2014 ke 16 pesawat T-50 sudah dapat dioperasikan oleh TNI AU sebagai pengganti dari pesawat Hawk Mk-53.

Demi memenuhi permintaan Indonesia yaitu target penyelesaian keseluruhan di tahun 2013, setelah penandatanganan resmi kontrak pembelian T-50, pabrik pesawat KAI mulai memproduksi pesawat pesanan Indonesia. Pesawat hasil rancangan bersama antara Korea Aerospace Industries dan Lockheed Martin ini diproduksi langsung di Korea Selatan.

Penantian dan ujung jalan panjang proses pembelian pesawat T-50 Golden Eagle kini sudah didepan mata, terbukti dengan diberangkatkannya 6 penerbang terbaik Skadron Udara 15 Lanud Iswahjudi Madiun ke Korea Selatan pada tanggal 12/1/2013. Keenam penerbang tersebut dijadwalkan berada di Korea Selatan selama kurang lebih 8 bulan guna mengikuti pengenalan dan berbagai pelatihan baik teori maupun terbang langsung dengan menggunakan T-50. Selain 6 penerbang, sebanyak 31 teknisi juga diberangkatkan ke Korea Selatan untuk mengikuti pelatihan dan pemeliharaan pesawat T-50, karena merekalah nantinya di Indonesia yang akan melakukan perawatan dan pemeliharaan serta memastikan pesawat dalam kondisi laik terbang. Keberangkatan enam penerbang dan tiga puluh satu teknisi ke Korea Selatan dalam rangka transfer tekhnologi T-50, dipimpin langsung oleh Komandan Skadron Udara 15 Mayor Pnb Wastum.
Para penerbang yang diberangkatkan seluruhnya mempunyai kualifikasi Sekolah Instruktur Penerbang dan para merekalah nantinya yang akan menularkan ilmu dan pelajaran yang didapat selama berada di Korea Selatan kepada rekan sesama penerbang di Skadron Udara 15, maupun kepada para junior-juniornya yaitu siswa calon penerbang tempur. Enam penerbang tersebut adalah Komandan Skadron Udara 15, Mayor Pnb Wastum, Mayor Pnb Marda Sarjon, Mayor Pnb Budi Susilo, Mayor Pnb Hendra, Kapten Pnb Darma T  Gultom, dan Kapten Pnb Luluk Teguh Prabowo.

Calon penerbang T-50 (photo: news.co.kr)

Gelombang pertama kedatangan pesawat T-50 Golden Eagle rencana dijadwalkan pada bulan September 2013, selanjutnya pada bulan berikutnya berturut-turut hingga keseluruhan sebanyak 16 unit pesawat diharapkan dapat diterima Indonesia sampai dengan akhir tahun 2013. Penasaran ingin melihat kelincahan pesawat ini secara langsung di langit Indonesia ? Kita nantikan saja kedatangannya, semoga tidak ada hambatan apapun sampai dengan keseluruh T-50 Golden Eagle tiba di Tanah Air. Bravo TNI AU !

2/17/2013

EMB-314 Super Tucano



EMB-314 Super Tucano

 Tipe
 Produsen
Embraer Defense System
 Terbang perdana
1996
 Diperkenalkan
2003
 Status
Aktif
 Pengguna
Empat Unit Pesawat Super Tucano EMB-314 Resmi Perkuat Alutsista TNI AU.
Pesawat Embraer EMB-314 milik Angkatan Udara Brazil
Warna Camo (Camouflage/Kamuflase) EMB-314 TNI AU - by @JamalHabibur Jamal Habibur Rahman
EMB-314 (Super Tucano) merupakan pesawat latih berkemampuan COIN (Counter Insurgency) atau pesawat serang antigerilya buatan Embraer Defense System, Brasil. EMB-314 Super Tucano merupakan pengembangan dari EMB-312 Tucano yang telah terjual 650 unit untuk 15 negara dengan Brasil sebagai pemakai utama memiliki 130 unit. Penyempurnaan yang dilakukan dari pesawat sebelumnya meliputi sistem avionik, sistem persenjataan dan sistem komunikasi data. Sejak diperkenalkan dan dipakai AU Brasil pada tahun 2004, EMB-314 terbukti berhasil melakukan misi penjagaan perbatasan di kawasan Amazon yang terkenal sangat rawan dengan aktivitas penyelundupan dan perdagangan narkotika.
EMB 314 / A-29 Super Tucano adalah jenis pesawat tempur ringan turboprop yang diproduksi oleh pabrikan pesawat Embraer yang berkedudukan di Brazil. Pesawat tempur yang dikenal memiliki beberapa keunggulan ini telah menarik minat para pejabat TNI AU dan telah memesannya sebanyak 1 Skuadron atau sejumlah 16 unit pesawat tempur EMB 314 / A-29 Super Tucano. Menurut kabar, 4 dari 16 unit pesawat yang dipesan tersebut bisa disaksikan oleh masyarakat Indonesia pada peringatan hari jadi TNI AU yang ke-65 pada 9 April 2012.
Selain Brazil sendiri, pesawat tersebut juga telah digunakan AU Kolombia, Chili, Republik Dominika dan Ekuador. Embraer juga berencana untuk merambah ke beberapa negara di Asia dan Timur Tengah.
Pada tahun 1995, Embraer memenangi kontrak dari Brasil Air Force (FAB) pengembangan varian Super Tucano, dikenal sebagai proyek pesawat serang ringan ALX. Pesawat ini dioptimalkan untuk kondisi lingkungan di Amazon, Brazil. ALX diciptakan untuk mampu beroperasi disegala kondisi cuaca, siang dan malam, misi dari pangkalan terpencil dan tak beraspal tanah landasan pacu dengan sedikit dukungan. Pesawat produksi pertama selesai pada tahun 1999.
Pada Agustus 2001, AU Brazil menandatangani kontrak pembelian 76 EMB 314 / A-29 Super Tucano dengan konfigurasi 25 unit kursi tunggal (A-29 ALX) dan 51 unit kursi ganda (AT-29 ALX). AT-29 ditempatkan di pangkalan AU-Natal untuk menggantikan posisi AT-26 Xavante yang habis masa baktinya. Salah satu misi utamanya adalah melakukan patroli perbatasan di bawah program sistema de Vigilancia da Amazonia (SIVAM) yakni program pengawasan kawasan Amazon. Pesawat pertama kali dikirim ke AU Brazil pada Desember 2003, hingga September 2007 Embraer telah menyerahkan sekitar 50 unit pesawat kepada AU Brazil. Pengiriman pesawat ini telah diselesaikan di akhir tahun 2009 kemarin.
Selain sebagai pesawat latih tingkat dasar dan lanjutan, Super Tucano juga dapat dioperasikan sebagai pesawat patroli perbatasan dan counter-insurgency operations (operasi penumpasan pemberontakan). Pesawat sanggup bermanuver hingga +7g dan -3.5g. Ukurannya yang kecil sanggup mereduksi sinyal radar dan visual, dikombinasi dengan kecepatan yang tinggi dan lincah dalam bermanuver memberikan tingkat survivability cukup tinggi. Tingkat keamanannya pun bertambahan berkat pelindung baja disekitar kokpit dan critical systems redundancy.
Di bulan Agustus 2001, Embraer mengumumkan penandatanganan kontrak pembelian 10 unit EMB 314 / A-29 Super Tucano dengan Republik Dominika. Pesawat tersebut akan difungsikan sebagai pesawat latih, keamanan internal, patroli perbatasan dan perang melawan narkotika. Namun belakangan jumlahnya dikurangi menjadi 8 pesawat, dan pada 18 Desember 2009 kemarin telah diserah terimakan 2 pesawat.
Pada Februari 2005, Venezuela menyatakan minatnya membeli 24 unit EMB-314 Super Tucano kepada Brazil dalam 2 tahap. Tahap pertama 12 unit, sisanya di tahap selanjutnya. Namun proses pembeliannya dibatalkan karena tekanan dari Amerika yang memberlakukan embargo kepada Venezuela termasuk semua komponen sukucadang yang dibuat AS. Saat ini Super Tucano masih menggunakan 30% komponen dari AS.
Pada Desember 2005, AU Kolombia memesan 25 pesawat EMB 314 / A-29 Super Tucano yang akan digunakan untuk berpatroli di sepanjang garis perbatasannya dan untuk keamanan internal. Pengiriman 5 unit pertama dilakukan pada Desember 2006 dan rampung seluruhnya pada Agustus 2008. Pesawat pesanan Kolombia ini menggunakan perangkat avioniks yang dipasok dari Elbit System.
April 2008, AU Chili memutuskan membeli 12 pesawat EMB-314. Kontraknya sendiri ditandatangani pada Agustus 2008. Empat pesawat telah diterima AU Chili (FACH) pada 23 Desember 2009.
Spesifikasi (EMB 314)
Karakteristik umum
·         Kru: Satu percontohan pada versi kursi tunggal, satu pilot ditambah satu navigator / siswa pada versi double seat
·         Payload : 1.550 kg (£ 3420)
·         Panjang: 11.42 m (37 ft 6 in)
·         Lebar sayap : 11.14 m (36 ft 7 in)
·         Tinggi: 3,9 m (12 ft 9,5 in)
·         Area sayap: 19,4 m² (209 sq ft)
·         Berat kosong : 3.200 kg (£ 7055)
·         Max. berat lepas landas : 5.400 kg (11.905 £)
·         Powerplant : 1 × Pratt & Whitney Canada PT6A-68C turboprop, 1.600 hp (1.193 kW)
Prestasi
·         Kecepatan maksimum : 590 km / h (319 knots, 367 mph)
·         Cruise speed : 520 km / h (281 knots, 323 mph)
·         Stall kecepatan : 148 km / h (80 knot, 92 mph
·         g -batas: +7 / -3.5 g )
·         Rentang : 720 nm (827 mil, 1.330 km)
·         Memerangi radius : 550 km (300 nm, 342 mi) (hi-lo-hi profile, 1.500 kg (3.300 lb) dari toko eksternal)
·         Ferry kisaran : 1.541 nm (1.774 mil, 2.855 km)
·         Ketahanan : 8hrs 40mins
·         Layanan langit-langit : 10.668 m (35.000 ft)
·         Tingkat panjat : 24 m / s (79 ft / s)
Sistem persenjataan
Super Tucano memiliki 2 senapan mesin yang berada di sayap kiri dan kanan, 5 buah cantelan dengan komposisi masing-masing 2 buah di sayap kiri dan kanan dan 1 buah di badan pesawat dengan beban total 1550 kg. Semua cantelan bisa dipasang bom sejenis Mk 81 dan Mk 82, peluncur roket, dan bom berpemandu laser.
Varian
A-29A 
kursi tunggal dengan kemampuan serang antigerilya, pendukung tugas udara jarak dekat, menghadang dan menghancurkan pesawat biasa
A-29B 
kursi ganda dengan kemampuan sama seperti versi kursi tunggal, dengan kemampuan tambahan sebagai pesawat latih dan fungsi pengawasan udara