Tampilkan postingan dengan label Unik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Unik. Tampilkan semua postingan

2/18/2014

Releasing of TGT48/2 logo!

Hey, good evening.
Apakah kalian masih ingat dengan lirik lagu "Bento B" yang pernah dipos di blog ini? Ya, lagu tersebut adalah lagu parodi dari 48Family yang "rencananya" akan dibawakan oleh fool-group baru, bukan idol group, ya! Bukan juga sister group-nya AKB48. Mungkin lebih pantas disebut grandpa group-nya AKB48. Yah, di malam ini, sekitar pukul 10 malam, kami manajemen TGT48/2 memutuskan untuk merilis logo resmi dari grup kami...
DAN...
Dan inilah, logo kami! Dengan latar dari keindahan pola batik Lasem dan ketenangan huruf dengan warna putih.
Kami memilih latar batik Lasem adalah karena kami adalah grup yang berasal dari Rembang, sedangkan Rembang sendiri memiliki ciri khas dalam dunia tekstil yaitu batik Lasem. Warna merah menyala dari batik Lasem berpadu dengan font berwarna putih yang tenang. Sebetulnya memang kami tidak mengambil filosofi yang terlalu dalam untuk logo ini. Namun bagaimanapun, logo adalah cermin kepribadian kita, sehingga logo ini yang mencerminkan kepribadian dan diri kita.
Sekian penjelasan dari manajemen TGT48/2. BENTO!

2/08/2014

Bento B!

Bento B
TGT48/2
original song is Wasshoi (Wasshoi/ワッショイ for B (AKB48, J for JKT48), Bacchikoi/バッチコイ for K, Happy for A, and Enjoy for 4)

48Family+TGT48/2 logo

Let’s go!

Wolu, siji!
Wolu, siji!
Saat ini kita masih kan bernyanyi dengan bento dan sedeng
Ayo mulai 3! 2! 1! BE!

Ais, Linda, Amara, Ammar,
BE! BE! BE! Bento!
Arin, Aul, Ayu’, Devi,
BE! BE! BE! Bento!

Selalu dari bento,
Let’s be fool! Oh yeah!
Bento kan dimulai,
Enjoy! Crazy!
Bento lah hari ini!
Singing! Dancing!
Hey! Crack your brain!
1, 2, 3, 4!

Hey, yey, semua lihat kami!
Kami adalah penyebar virus-virus bento!
Tolong teriak dengan keras!
Kita menjadi bento adalah darimu.

Dengan gila, sedeng, kami bento!
BE! BE! BE! Bento!
Gemakan bahwa yang terbento itu,
BE! BE! BE! Bento!

Nia, Bella, Tia, Fida’,
BE! BE! BE! Bento!
Frika, Iqbal, Jamal, Josan,
BE! BE! BE! Bento!

Sekuat tenaga, jadi bento,
Oh yeah!
Menyongsong hari esok,
Be fool! Crazy!
Dukungannya,
Thank you! Love you!
Hey! Look at us!
1, 2, 3, 4!

Berikan lebih banyak semangat,
Jangan lupa, ingatlah pada diri kami,
Tolonglah panggil nama kami,
Bagi kami itu adalah Bento-vation!

Indra, Khofifah, Intan, Amel,
BE! BE! BE! Bento!
Ridha, Okta, Rosa, Vina
BE! BE! BE! Bento!

Wolu, siji, kelas, bento!
BE! BE! BE! Bento!
Wolu, siji, kelas, bento!
BE! BE! BE! Bento!

Wolu siji!
Wolu siji!
Wolu siji!
Wolu siji!
Bento!

Dengan gila, sedeng, kami bento,
BE! BE! BE! Bento!
Gemakan bahwa yang terbento itu,
BE! BE! BE! Bento!



Yang terbento itu,
BE! BE! BE! BE!
Yang terbento itu,
BE! BE! BE! BE!
Yang terbento itu,
BE! BE! BE! BE!
Yang terbento itu,
BE! BE! BE! BE!

Bento!

11/16/2013

[ENGLISH SECTION] The TF-X Will Be the First Flying Car That Actually Works Like a Flying Car


Image: The TF-X concept from Terrafugia
The dawn of the flying car is nigh. A company called Terrafugia has been working to bring the first airborne sedan, the Transition, to the masses since 2006. Yesterday, it announced that it will finally deliver its first unit in 2015. Unfortunately, the clumsy Transition is really nothing like the flying cars humans have fantasized about zipping around in ever since the Jetsons. But Terrafugia also announced that it's working on an alternate model, the TF-X, that is: a vehicle that will take off vertically with rotor propellers, fly with the wings of a private jet, and drive like a street-legal sedan. In other words, a flying car built to sci-fi spec—just as we always imagined it.
See, the Transition, the one coming to market in two years, is more private jet than flying car. It looks sort of a like a toy airplane that was dropped in a trash compactor: 
The Transition must be driven to an airfield and outfitted for flight—in other words, the flying car presents few discernible advantages over just having a small plane, other than the novelty factor, which would mostly just result in people giving you puzzled looks as you cruised by in a pod version of the Bluth stair car. Also, it costs $300,000. 
So all you flying car aficionados out there might want to save your cash until Terrafugia introduces the TF-X. Because this one might actually be a game-changer. 
The TF-X is everything the Transition is not: it's a leap forward. It actually offers a distinct departure from current transportation paradigms. The TF-X can be taken to flight from a helicopter pad—or a parking lot. According to Terrafugia, the vehicle will carry four people "in car-like comfort," boast a nonstop flight range of 500 miles, fit in a single car garage, take off vertically from a clearing that's just 100 feet in diameter, and will be road and highway ready. It actually gets us one step closer to Blade Runner. 
The company also insists that any driver will be able to learn to pilot the airborne vehicle within a mere five hours—though they'll still have to get their pilot's license.
Sure, it's still a little goofy. It's also the FAA's nightmare come true: flying cars taking off and soaring across suburbia at will would usher in a new era of trasportation mayhem. If Terrafugia's plans ever attract enough investment to enable them to sell a high volume of these things, there's obviously going to have to be some serious work done to hash out what traffic rules might look like for omni-directional airborne transit. 
Still, it's easy to imagine lots of affluent folks getting excited about this idea: soaring over increasingly congested commutes, skipping right from the local suburban Walmart parking lot to the roof of the parking structure at the office downtown. I joked about it earlier, but the novelty factor is not to be underestimated, either—millions of well-off baby boomers, not to mention millions of older and younger generations, grew up dreaming about sci-fi and flying cars. Some of them will no doubt be willing to dip into their savings to live out that fantasy in real life. Transfugia is betting on it—and they are flying cars, after all.
Source : MOTHERBOARD

8/29/2013

Mau Tau Tarif Wi-Fi di Garuda? Ini, Nih!

FOTO. Penggunaan Wi-Fi di Pesawat Garuda

Direktur Pemasaran Garuda Indonesia Erick Meijer mengungkapkan rencana tarif layanan internet (wi-fi) di pesawat Garuda antara 15-20 dolar AS per jam. Tarif tersebut, menurut Erick tidak terlalu mahal. “Rata-rata segitu yang dijual oleh maskapai lain,” ujarnya usai konferensi pers GATF 2013 hari ini, Rabu (28/8) di Jakarta.
Layanan internet di pesawat Garuda pada saat ini memang masih belum dikomersialkan. “Kami baru mendapatkan ijin penyelenggaraan, bukan komersial.  Untuk dapat ijin komersial harus ada rencana bisnis dan sebagainya,” ujar Erick. Untuk pengadaan layanan internet ini, Garuda bekerjasama dengan Telkomsel.
Sampai  saat ini, layanan wi-fi baru diujicobakan di dua pesawat Boeing B777-300 ER yang sudah bergabung di armada Garuda. Dua pesawat ini melayani penerbangan ke luar negeri. Di antaranya ke Jepang dan Korea Selatan.
Secara pribadi, menurut Erick, dirinya menginginkan layanan ini segera dikomersialkan. Karena layanan ini sudah diterapkan di beberapa pesawat milik maskapai luar negeri yang menjadi saingan Garuda.
Sumber : Angkasa Online

8/18/2013

10 Pesawat Penumpang Terbesar di Dunia

Perjalanan yang paling cepat sampai tujuan adalah dengan menggunakan pesawat terbang. Jarak ribuan kilometer dapat dengan cepat ditempuh hanya hitungan jam dari pada dengan jalan darat atau laut yang memakan waktu berhari-hari. Pesawat telah digunakan oleh manusia sebagai transportasi cepat sejak 1900an.
Menumpang pesawat berbadan besar dengan fasilitas yang mewah adalah suatu kebanggaan tersendiri. Bangga menjadi salah satu dari ratusan penumpang sebuah pesawat berbadan besar karena tidak setiap orang bisa memiliki kesempatan untuk menaiki burung besi ini. Harga tiket yang mahal sebanding dengan fasilitas mewah yang diberikan pada pesawat tersebut.
Di era modern saat ini banyak pesawat yang berbadan besar, namun apakah pesawat-pesawat tersebut sudah dikatakan besar? Kategori pesawat besar di sini adalah pesawat penumpang komersial yang memiliki hingga ratusan penumpang dalam sekali penerbangan. Berikut ini 10 pesawat penumpang terbesar seperti yang dilansir The Richest (14/05/2013).
1. Airbus A380 900 (900 kursi)
pesawat1Airbus A380 900 adalah pesawat penumpang dari Perancis dengan rentang perjalanan dari 8.100 mil laut atau 15.000 kilometer. Pesawat ini dapat mengangkut 900 penumpang dalam satu pengaturan kelas dan 656 dalam konfigurasi kelas ganda. Biaya pesawat $ 337,5 juta. Empat Rolls Royce Trent mesin B digunakan untuk membantu pesawat mencapai kecepatan jelajah maksimum 676 mil per jam dan ketinggian terbang maksimum 43.000 kaki.
2. Airbus A380 800 (853 kursi)
Airbus A380 800 adalah pesawat penumpang dibuat di Perancis dengan kapasitas 853 penumpang dalam satu kelas atau 644 di kelas dua tingkat. Pesawat ini memiliki berbagai perjalanan 8.208 mil laut atau 15.200 kilometer. Biaya pesawat $ 318 juta. Empat Rolls Royce Trent mesin 970B di 70.000 lbf listrik pesawat. Maksimum jelajah kecepatan 676 mil per jam dengan ketinggian terbang 43.000 kaki. Airbus telah menjual 192 unit model ini.
3. Boeing 747 8 (700 kursi)
pesawat3Boeing 747 8 adalah pesawat penumpang yang diproduksi di Amerika Serikat. Hal ini dapat menampung 700 penumpang jika sistem kelas tunggal diikuti, sementara 600 kursi tersedia dalam konfigurasi kelas ganda. Pesawat ini memiliki rentang perjalanan dari 8 ribu mil laut atau 14.816 kilometer. Empat General Electric GEnx 2B67 dengan 66.500 lbf listrik pesawat. Kecepatan jelajah maksimum 649 mil per jam. Pesawat ini terbang pada ketinggian 43 ribu kaki. Hanya lima unit telah terjual di $ 351,4 juta.
4. Boeing 747 400 (624 kursi)
Boeing 747 400 adalah pesawat penumpang yang dibuat di Amerika Serikat yang dapat mengakomodasi 624 penumpang dalam kelas tunggal yang ditetapkan dan 524 di kelas dua sistem. Pesawat ini memiliki berbagai perjalanan 7.260 mil laut atau 13.446 kilometer. Pesawat ini memiliki empat mesin General Electric GE CF6 80C2B5F di 62.100 lbf untuk memberikan kekuatannya. Kecepatan jelajah maksimumnya adalah 565,47 mil per jam dan dan terbang pada ketinggian 45 ribu kaki. Biaya pesawat $ 228 juta. Boeing telah terjual 1.358 unit model ini.
5. Boeing 777 300 (550 kursi)
pesawat5Boeing 777 300 adalah pesawat penumpang yang diproduksi di Amerika Serikat dengan kapasitas kursi 550 orang di kelas tunggal yang ditetapkan dan 451 di kelas dua konfigurasi. Pesawat ini memiliki berbagai perjalanan 6.013 mil laut atau 11.135 kilometer. Dua Rolls Royce RR 892 mesin di 92.000 lbf listrik pesawat. Maksimum jelajah kecepatan 587 mil per jam dan ketinggian terbang 43.100 kaki. Boeing telah menjual 60 unit model ini dengan harga $ 279 juta.
6. Airbus A380 700 (525 kursi)
pesawat6Airbus A380 700 adalah pesawat penumpang dari Perancis dengan rentang perjalanan dari 8.700 mil laut atau 16.112 kilometer. Pesawat ini dapat mengangkut 525 penumpang dalam satu konfigurasi kelas dan 480 di kelas dua set up. Biaya pesawat $ 301 juta. Empat Mesin Alliance GP 7270 mesin di 70.000 lbf. Maksimum jelajah kecepatan 676 mil per jam sedangkan ketinggian terbang 43.000 kaki. Hal ini dapat meningkat di tingkat 4.500 fpm.
7. Boeing 777 200 (440 kursi)
pesawat7Boeing 777 200 adalah pesawat penumpang yang dibuat di Amerika Serikat. Hal ini dapat mengakomodasi 440 penumpang dalam sistem kelas tunggal dan 400 di kelas dua konfigurasi. Ia memiliki berbagai perjalanan 14.260 kilometer atau 7.700 mil laut. Pesawat ini didukung oleh beberapa Pratt dan Whitney PW 4090 mesin di 90.000 lbf. Kecepatan jelajah maksimum 587 mil per jam dan ketinggian terbang 43.100 kaki. Boeing telah terjual 439 unit. Harga adalah $ 258,8 juta.
8. Airbus A340 600 (420 kursi)
pesawat8Airbus A340 600 adalah pesawat penumpang dari Perancis yang dapat menampung 420 penumpang dalam sistem kelas tunggal dan 380 dalam susunan kelas ganda. Pesawat ini memiliki berbagai perjalanan 7.750 mil laut atau 14.353 kilometer. Empat Rolls Royce Trent 556 daya mesin pesawat dengan avionik oleh Thales Smiths. Kecepatan maksimum jelajah adalah 580 mil per jam dan dapat terbang pada ketinggian 39.000 kaki di udara. Airbus telah menjual total 48 unit model ini. Harga adalah $ 245 juta.
9. Airbus A340 500 (372 kursi)
pesawat9Airbus A340 500 adalah pesawat penumpang yang diproduksi di Perancis. Pesawat ini datang di 2006, meskipun ada pengiriman awal tahun 2002. Pesawat ini dirancang untuk 372 penumpang dalam susunan kursi kelas tunggal dan 313 dalam sistem kelas ganda. Perjalanan berbagai pesawat ini adalah 9.018 mil laut atau 16.700 kilometer. Sebuah unit tunggal dari biaya pesawat sekitar $ 233 juta. Ketika pertama kali diperkenalkan, pesawat ini ditagih sebagai pesawat penumpang dengan rentang terpanjang. Hal ini didukung oleh empat 53.000 lbf dorong Rolls Royce Trent 553 turbofan dan menggunakan Honeywell 331-600 (A) APU. Pesawat ini adalah salah satu dari pesawat dari pilihan Emirates, yang memiliki 10 unit model ini. Airbus telah
menjual 22 unit model ini.
10. Airbus A340 300 (295 kursi)
pesawat10Airbus A340 300 adalah pesawat penumpang yang dibuat di Perancis. Pesawat ini adalah pertama diproduksi pada tahun 1993 dan dapat menampung 295 penumpang di kursi kelas pengaturan satu dan 267 dalam sistem kelas dua. Pesawat ini memiliki berbagai perjalanan 7.400 nautical mil atau 13.705 kilometer. Harganya saat ini adalah antara $ 211 juta ke $ 219 juta. Pesawat ini adalah versi awal dari A340 dan pengguna pertama adalah Lufthansa dan Air France pada Maret 1993. Pesawat ini didukung oleh empat CFMI CFM56-5C mesin dan membuat penggunaan Honeywell 331-350 (A) APU. Airbus telah menjual 246 unit model ini.

8/07/2013

Detik-Detik Menuju Bulan


“I believe this nation should commit itself to achieving the goal, before this decade is out, of landing a man on the Moon and returning him safely to the Earth”.  

Demikian pidato Presiden Kennedy di depan sidang kongres pada 25 Mei 1961 yang menggerakkan semangat para ahli, ilmuwan, anggota kongres maupun warga Amerika untuk mendukung program besar tersebut. Mimpi ini berangkat dari kekalahan Amerika dalam persaingan teknologi luar angkasa oleh Rusia yang telah terlebih dahulu meluncurkan satelit pertama di dunia, Sputnik 1 pada 4 Oktober 1957, disusul dengan penerbangan luar angkasa berawak pertama di dunia oleh Yuri Gagarin menggunakan wahana antariksa Vostok 1 pada 12 April 1961.  

Sebenarnya tak lama setelah penerbangan Gagarin, Amerika sudah meluncurkan Program Mercury dengan menerbangkan Mercury-Redstone yang diawaki oleh Lt-Cdr Alan B. Shepard pada tanggal 5 Mei 1961 yang mengangkasa hingga ketinggian suborbital.  Akan tetapi, hal ini masih dianggap belum memuaskan ambisi Amerika. Akhirnya Presiden Kennedy mencetuskan ide untuk mendaratkan manusia di Bulan pada tiga minggu kemudian.  

            Dengan sebuah semangat menggelora, penelitian, pengembangan, uji coba, dan segala upaya untuk penerbangan ke Bulan diupayakan oleh para ahli NASA. Setelah meluncurkan Mercury-Redstone, NASA kembali meluncurkan pesawat ruang angkasa berawak yang diberi nama Mercury-Atlas 6 (Friendship 7) pada tanggal 20 Februari 1962 dengan awak John H. Glenn. Penerbangan itu berhasil mengitari Bumi sebanyak tiga kali.  Lagi-lagi, keberhasilan itu masih dianggap sebagai kekalahan dari Uni Soviet, karena Soviet sudah meluncurkan Vostok 2dengan awak Gherman Titov yang berhasil mengorbit Bumi sebanyak 17,5 kali pada 6 Agustus 1961. 

Namun NASA tetap melanjutkan Program Mercury ini dan mampu membuat langkah maju dalam bidang penerbangan ruang angkasa. Mercury-Atlas 7(Aurora 7) hasil pengembangan NASA yang diawaki oleh Lt-Cdr M. Scott Carpenter pada 24 Mei 1962 mampu mengitari Bumi tiga kali. Pencapaian ini disusul penerbangan enam kali mengorbit bumi oleh Lt-Cdr Walter M. Schirra dengan Mercury-Atlas 8 (Sigma 7) pada 3 Oktober 1962. Tanggal 15 Mei 1963 NASA meluncurkan wahana Mercury-Atlas 9 (Faith 7) dan berhasil mengorbit Bumi sebanyak 22 kali.   

Dalam sejarah penerbangan luar angkasa Amerika, Program Mercury yang dimulai pada tahun 1958  ini merupakanStage 1 dari pengembangan wahana pengiriman manusia ke bulan.  Program ini bertujuan meluncurkan wahana dengan satu awak ke luar angkasa. Stage 2 sebagai kelanjutan Mercury diprogramkan untuk mengembangkan wahana yang lebih maju dengan awak sebanyak dua orang.

Dengan dua modul wahana, program yang bernama Gemini ini memiliki berat hampir dua kali lipat berat Mercury. Modul pertama di sisi belakang berupa adaptor yang berisi sistem propulsi yang akan mendorong wahana ke luar angkasa, dan memungkinkan awak untuk bermanuver di luar angkasa, sedangkan modul kedua di sisi depan berisikan kompartemen untuk awak pesawat dan sistem parasut untuk pendaratan. Modul kompartemen berupa kapsul ini akan memisahkan diri dari adaptor sesaat sebelum wahana memasuki atmosfir Bumi. NASA menambah beberapa alat kendali di kapsul untuk mengontrol wahana saat memasuki atmosfir Bumi. 

Program Gemini berhasil menerbangkan sepuluh misi ke luar angkasa dalam rentang waktu 20 bulan. Keberhasilan besar program ini adalah meningkatnya pengetahuan NASA sebagai hasil dari proses pembelajaran untuk melaksanakan Extra Vehicular Activity (EVA), rendezvous manoeuvres, docking ke wahana lain di orbit, dan penelitian ilmiah dalam skala terbatas. Major Frank Borman dan Lt-Cdr James A. Lovell menjadi manusia terlama yang mengorbit Bumi selama 14 hari dengan wahana Gemini 7 pada 4 sampai 18 Desember 1965. Penerbangan ini berhasil mendemonstrasikan bahwa awak yang terlatih dapat bertahan pada zero gravity tanpa menjadi jatuh sakit dalam periode yang cukup lama.

Roket peluncur
Belum adanya roket dengan tenaga yang cukup untuk mendorong wahana ke orbit bulan menjadi permasalahan terbesar dalam Program Gemini. Seorang ahli senjata balistik Jerman yang pernah mengembangkan roket A-4 dan roket di Peenemunde saat perang dunia kedua bernama Wernher von Brown pindah ke Amerika dan akhirnya berhasil merancang roket Saturn yang digunakan untuk program pendaratan manusia ke Bulan.

Keluarga roket Saturn dimulai dengan lahirnya Saturn I yang berhasil diluncurkan pada 27 Oktober 1961. Tenaga roket yang dihasilkan juga mengalami peningkatan signifikan, yaitu 1,3–1,5 juta pounds thrust pada Saturn I menjadi 7,5 jutapounds thrust pada Saturn V. Gaya dorong sebesar itu dihasilkan di Stage 1. Pada Stage 2, roket Saturn Vmenghasilkan  thrust sebesar 1 juta pounds, dan di Stage 3 mampu memberikan thrust sebesar 225.000 pounds. 

Pada 9 November 1967, roket Saturn3 dan modul Apollo seberat 20.408 kg diluncurkan untuk pertama kalinya. Saat fase ignition dimulai, terasa guncangan hebat di permukaan tanah di sekitar tempat peluncuran. Di lokasi liputan pers yang berjarak 5 km dan  atap booth milik Columbia Broadcasting System runtuh. Bahkan menurut beberapa orang suara itu sebanding dengan suara letusan Gunung Krakatau di Selat Sunda pada tahun 1883. Gelombang tekanan udara yang ditimbulkan oleh roket Saturn terdeteksi oleh alat yang terpasang di Lamont-Doherty Geological Observatory, New York yang berjarak 1.770 km.  

Pada uji coba hari itu, roket Stage 1 berhasil mendorong wahana sampai ketinggian 185 km, dilanjutkan dorongan dariStage 2 yang berhasil menambah ketinggian hingga 17.210 km, dan diakhiri dorongan Stage 3 yang berhasil menambah ketinggian mencapai 18.072 km. Dengan masih adanya mesin di wahana, yang masih bisa memberikan akselerasi ke wahana saat entry atmosfir Bulan, maka NASA berkesimpulan bahwa roket akan mampu mencapai bulan. Untuk pengembangan di Saturn V, NASA menambahkan alat untuk meredam suara yang timbul saat faseignition.

Detik detik bersejarah
Setelah melalui perjalanan panjang, akhirnya Program Apollo siap diluncurkan. Deadline yang diberikan oleh Kennedy membuat tegang seluruh masyarakat Amerika, terutama para ilmuwan NASA. Ketegangan semakin bertambah karena sehari sebelumnya Soviet meluncurkan Luna 15, sebuah wahana antariksa tanpa awak dengan misi mendarat di bulan, mengambil sampel tanah dari Bulan, dan kembali ke Bumi sebelum Apollo kembali menuju Bumi. 

Berbagai pertanyaan timbul di benak masyarakat, apakah para astronot pulang kembali ke Bumi, seperti apakah wajah permukaan Bulan yang begitu cantik bersinar di malam hari, bagaimana rasanya mengalami gravitasi seperenam dari gravitasi Bumi, dan masih banyak pertanyaan lainnya. Tepat tanggal 15 Juli 1969, Neil Armstrong, Edwin Buzz Aldrin, dan Michael Collins, para astronot yang akan melakukan perjalanan menuju Bulan memberikan pesan kepada dunia yang menunggu peristiwa paling bersejarah itu. “Message to the waiting world, we have no fear“. Kata-kata yang mencerminkan keberanian dan keyakinan.

Saat yang begitu ditunggu tiba. Lebih dari satu juta orang menyaksikan peristiwa itu di dekat Kennedy Space Centre. Lebih dari dua ribu wartawan dari berbagai media di seluruh dunia meliput momen terbesar abad itu, dan menyiarkannya secara langsung ke berbagai stasiun TV serta radio. Diperkirakan lebih dari satu miliar orang menyaksikan peristiwa itu secara langsung melalui siaran televisi, maupun mendengarkan liputannya melalui siaran radio.  

Dari sisi tribun pers yang berjarak 5 km dari tempat peluncuran, tampak sebuah monster raksasa setinggi 363 kaki berdiri tegak menjulang di bawah sinar matahari musim panas tahun itu. Waktu semakin mendekati pukul 14.32, waktu yang ditentukan untuk peluncuran Apollo 11. Ketegangan tampak semakin memuncak. Tepat 30 detik sebelum waktu peluncuran, tampak uap besar yang berasal dari propelan oksigen cair di bawah roket Saturn V. Uap itu membumbung ke cakrawala, sehingga para penonton yang berjarak 5 km dari tempat peluncuran bisa melihatnya dengan jelas. 

Beberapa detik kemudian, pengeras suara memperdengarkan perhitungan mundur waktu peluncuran “...12...11...10...9... ignition sequence start... “. Sedetik kemudian tampak sebuah bola besar berwarna merah jingga menyala di bawah roket Saturn V.  “...6... 5...4...”,  perhitungan mundur berlanjut. Gumpalan awan besar dari sisi bawah roket semakin bergulung-gulung dan membesar, tampak di tengah awan tersebut sebuah bola api merah jingga raksasa yang tumbuh semakin membesar. 

“All engines running...3...2...1...0...We have lift-off.  Wehave lift-off, thirty two minutes past two. Lift-off Apollo 11... tower cleared.” Demikian bunyi pengeras suara, menandakan Apollo 11 sudah meninggalkan tanah. Orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu larut dalam ketegangan dan rasa gembira yang demikian besar. Setelah beberapa saat suasana sunyi, tiba-tiba meledaklah suara semua orang demi melihat keberhasilan peluncuran misi luar biasa itu.

Di dalam Apollo 11, Neil Armstrong duduk di kiri, Aldrin di tengah, dan Collins duduk di kanan. Beberapa menit kemudian, Armstrong berkata “shutdown” saat roket stage ketiga habis bahan bakarnya.  Apollo 11 pada saat itu sudah berada di ketinggian orbit bumi dan bermanuver mengitari bumi sebagaimana yang sudah direncanakan. Dua orbit kemudian, roket Stage 2 S-IVB menyala lagi dan meluncurkan Apollo 11 menuju daerah translunar.   Collins sudah berpindah ke kursi tengah dan mengemudikan Command and Service Module, selanjutnya mengeluarkan Lunar Module yang dinamakan Eagle. Sesaat kemudian, kamera TV keluar, dan  menransimisikan gambar pemandangan Bumi dilihat dari luar angkasa.  

            Di tribun bawah, ratusan kilometer di bawah Apollo 11 yang membawa para astronot menuju bulan, para istri dari ketiga astronot berdiri di depan backdrop bermotif garis dan bintang sebagai simbol bendera Amerika. Mereka dengan senang melayani awak media yang terus memberondong dengan banyak pertanyaan. “Ya, tentu saja kami merasa bangga, takut sekaligus senang,” ujar para istri ini.

            Empat hari setelah peluncuran, 20 Juli 1961, waktu itu hari Minggu,  Armstrong melihat bahwa Apollo 11 mulai berada di sisi jauh bulan. Armstrong mendapat keyakinan bahwa Apollo 11 yang merupakan kombinasi antaraColumbia dan Eagle berada di orbit yang benar. Tidak berselang lama, dua astronot mulai mempersiapkan fase pendaratan. Semua proses pendaratan ini direkam oleh komputer di pusat kontrol di Houston.

Namun saat Lunar Module Eagle memulai fase powered descent initiation terjadi masalah komunikasi antara awakApollo 11 dan pusat kontrol. Waktu terus berjalan, fase powered descent masih berlangsung, dan bahan bakar terus menipis. Dengan sisa bahan bakar tinggal 30 detik lagi, Eagle masih mengudara dengan mode autopilot dalam proses pendaratan di Bulan. Saat Eagle semakin rendah, deru mesin Eagle menerbangkan debu-debu dan batu-batu bulan serta membentuk cekungan seperti kawah.

Melihat situasi seperti itu, Armstrong melihat adanya bahaya yang mengancam jika mereka mendarat di cekungan kawah yang tidak rata, maka Armstrong mengambil alih kemudi secara manual, kemudian membawa Eagle ke area yang lebih rata dibandingkan area berbatu di sekitar kawah yang dibentuk oleh deru mesin Eagle saat masih dalam mode autopilot. Dalam detik-detik akhir dari sisa bahan bakar, berbekal pengalaman, keberanian, kecepatan dan ketepatan untuk mengambil keputusan dalam suasana kritis, “Sang Elang” akhirnya berhasil mendarat di Bulan.

            Selanjutnya, Armstrong, dengan suara yang begitu dramatis, memecah kesunyian dengan kata-kata laporan resmi dalam pembukaan komunikasi dari bulan ke Bumi. “Houston, Tranquility Base here. The Eagle has landed” ucap Armstrong. Charlie Duke, salah satu kru di darat begitu gugup mendapatkan laporan dari Armstrong. “Rog...roger Twan...Tranquility. We copy you on the ground. You’ve got a bunch of guys about to turn blue. We’re breathing again. Thank’s a lot,” kata Duke dengan nada seakan masih tidak percaya bahwa dia mendengar suara langsung dari bulan sehingga sempat salah ucap.  

            Menurut rencana, dua astronot ini diprogramkan untuk tidur dahulu sebelum keluar modul untuk melaksanakan misi di permukaan bulan, tetapi mereka sudah tak sabar untuk menjejakkan kaki di daratan bulan. Dua orang yang sedang mengalami kegembiraan luar biasa ini segera mengenakan perlengkapan khusus mereka untuk menginjakkan kaki ke Bulan. Sementara itu, rekan mereka Mike Collins harus tinggal di orbit Bulan di dalam Command and Service Module.

Akhirnya pintu Eagle membuka dan tidak berselang lama, Armstrong mulai keluar dari modul. Dia melangkahkan kaki menuju tangga Eagle untuk turun ke permukaan bulan.  Sesampainya di tangga bagian bawah, Armstrong menyalakan kamera TV, dan jutaan pesawat TV di Bumi, mulai menampilkan gambar, yang masih dalam posisi terbalik. Kamera yang dibawa Armstrong memang belum berada pada posisi yang seharusnya.

Setelah Armstrong menjejakkan kaki di Bulan, dia mengatakan kalimat yang begitu dikenal dalam sejarah, dan tercatat dengan baik  dalam sejarah penerbangan luar angkasa, “sebuah langkah kecil bagi seseorang, namun sebuah lompatan besar untuk umat manusia.” Selanjutnya, Aldrin mengambil bendera Amerika, dan mengibarkan bendera itu di Bulan, sebagai simbol kemenangan Amerika dalam perlombaan menuju Bulan.

Setelah momen heroik tersebut, Aldrin diabadikan dalam berbagai foto dengan latar belakang permukaan Bulan dengan angkasa gelap di belakangnya, dengan Armstrong sebagai juru fotonya. Dari sekian banyak foto yang diambil di bulan, sebagian besar adalah foto yang dibintangi oleh Aldrin, sedangkan Armstrong hanya memiliki satu foto yang diambil oleh Aldrin, itupun saat Armstrong berada di bawah bayang-bayang Eagle.  Momen ini terjadi saat Aldrin megambil foto panorama 360° di Bulan.  

Telepon dari presiden
Saat berada di bulan dan melaksanakan eksplorasi, Armstrong dan Aldrin juga menerima panggilan telepon dari Bumi yang dilakukan oleh Presiden Nixon. Saat tersambung, mereka mendengar dengan jelas suara Nixon yang mengatakan “Hello, Neil and Buzz, I am talking to you from the Oval Office at the White House and this has got to be the most famous telephone call ever made...” Dan memang benar, sambungan telepon hari itu merupakan sambungan telepon yang sangat bersejarah dan begitu dikenang oleh umat manusia.

Hal yang mengkhawatirkan selanjutnya adalah sebuah pertanyaan besar yang belum terjawab. Bisakah mesin kecil diascent stage Eagle berhasil menyala dan membawa Armstrong serta Aldrin bergabung ke Collins yang menunggu di orbit? Jika mesin itu gagal dihidupkan, waktu yang tersisa untuk perbaikan sangatlah sedikit.

Tombol start ditekan, terdengar deru suara mesin ascent stage, dan setelah proses penyalaan yang tidak memakan waktu lama, Armstrong dan Aldrin sangat lega karena mesin Eagle berhasil menyala sempurna. Kemudian, diiringi dengan sedikit suara berderak, mesin Eagle berhasil mengangkat badan modul tersebut dan sesaat kemudian melesat dengan cepat menuju angkasa, meninggalkan permukaan Bulan di Tranquility Base. Beberapa saat kemudian, Eagle tiba di orbit bulan, dan mengorbit. Berkat pelatihan yang sangat memadai,  Eagle membuatrendesvous yang sempurna dan berhasil docking ke Columbia. 

Stasiun TV menyiarkan proses pendaratan Apollo 11, termasuk proses recovery-nya yang ternyata memakan waktu jauh lebih lama dari yang diperkirakan orang. Pada saat kapsul penyelamat membuka, para astronot ini langsung dipasangi pakaian khusus untuk mengisolasi mereka dan melindungi tim penyelamat dari kemungkinan kontaminasi bahan-bahan berbahaya dari luar angkasa, dan selanjutnya diangkat ke dalam helikopter. Saat para astronot turun dari helikopter mereka langsung menuju kontainer isolasi untuk sterilisasi.   Sebuah proses standar NASA saat menyambut awak wahana luar angkasa yang kembali ke Bumi.  

Setelah menjalani proses sterilisasi, ketiga astronot yang sedang menjadi idola jutaan orang itu diijinkan keluar ruangan isolasi. Saat sudah bisa keluar ruangan Presiden Nixon langsung menyambut mereka dan berkata, “Saya ingin kalian mengetahui bahwa saya merupakan manusia paling mujur di dunia. Bukan hanya karena saya menjadi Presiden Amerika Serikat, namun juga karena saya berkesempaan untuk berbicara langsung dengan kalian. Ini merupakan minggu terbaik sejak Bumi dan seisinya diciptakan. Kalian membuat manusia di dunia ini semakin dekat dan kami berterima kasih untuk itu.”

Ya, dunia memang selayaknya berterima kasih kepada ketiga astronot luar biasa ini, yang sudah menorehkan sejarah baru dalam penjelajahan manusia ke luar angkasa, dan mencatatkan nama mereka sebagai manusia pertama yang mendarat di Bulan, serta memberikan kontribusi besar bagi ilmu pengetahuan. Dari langkah kecil seorang manusia,  memberikan lompatan besar bagi umat manusia.   (Mayor Pnb Ig. Widi Nugroho)
Sumber : Angkasa Online

6/13/2013

Mengenang CN-235 Phoenix Project-Australia

 Pesawat UAE Berhasil di lease dengan syarat, dua personil ( Satu teknik dan satu Pilot ) UAE AF harus on board sebagai witness. Seingat saya untuk kedua personil UAE Mayor Jamal dan Mayor PNB Mudhafar, for some reason saat itu tdk bisa didapatkan security clearance bagi mereka berdua, utk memasuki military base di Australia. Ferry flight dari Abu Dhabi, kami lakukan, dengan pilot saya sendiri dan Erwin Danuwinata Alm, menempuh route Abu Dhabi-Bommbay- Calcuta- Bangkok-Bandung. Setelah melakukan beberapa penambahan di Bandung, seperti cargo rail dan beberapa peralataan lainnya, maka hanya dua hari setelah Lebaran kami pun mulai perjalanan.
Tujuan pertama adalah Darwin Airforce Base dengan technical landing Denpasar. Saya masih ingat, untuk memberikan kesan bahwa CN-235 is simple to operate maka kami berangkat dengan minimum number onboard. 2 Pilot, 1 Flight test Engineer Prihatno Alm, 1 Mekanik, 1 QA inspector total 5 person on board. Ditambah 2 UAE-AF Officer yang sangat menikmati mission ini. Karena tidak mempunyai security clearance maka seusai Landing disetiap AF Base mereka dikawal oleh Provost keluar base utk Tamasya dan jumpa kami lagi just prior to Departure. Logistic team IPTN berangkat terpisah dengan menggunakan airline, menuju Tulamarine Melbourne, stand by utk dispatch spare parts bilamana diperlukan di any point di Australia.
Presentation dan demo flight dilakukan di Darwin utk Salah satu Squadron Caribou yaitu “ Dingo Squadron”. Selama tiga hari beberapa Pilot berkesempatan untuk mencoba beberapa mission profile sesuai dengan mission yang biasa mereka lakukan. Termasuk diantaranya landing pada beberapa un-prepared runway, biasa mereka sebut BEEF TRACK, karena memang merupakan jalan berdebu biasa tdk didesign sebagai permanent Runway, hanya digunakan utk special mission.
Seluruh pilot DINGO yang menerbangkan merasa sangat puas dengan maneuverability maupun performance CN-235. Hal ini mungkin juga karena CN 235 merupakan “big jump” bagi mereka yang biasanya menerbangkan De Haviland Caribou yang Piston Engine, mendadak menerbangkan CN 235 yang Turbo Prop. Namun demikian dari hasil assessment, mereka cukup puas dengan STOL (Short Take Off Landing ) CN-235 yang ternyata bisa menyamai Caribou yang terkenal dengan STOL nya.
Meskipun ada beberapa saran/masukan perbaikan dan request dari mereka, seperti EYEBROW window, jendela diatas windshield yang akan memudahkan pilot dalam melakukan maneuver tajam seperti steep turn dan tactical mission lainnya. Kemudian juga hal seperti tangga yang embedded di pesawat utk membantu keperluan preflight. Semua coment dan input kami bawa pulang sebagai feed back bagi Engineering Dept di IPTN. Pada umumnya mereka sangat puas dengan performance serta agility CN 235 bahkan boleh dikatakan jatuh cinta.
Setelah Darwin kami beralih ke Townsville yang juga merupakan salah satu Basenya Caribou. Beberapa hari di Townsville kami lakukan kegiatan yang sama. Lebih banyak lagi dilakukan “Beeftrack” landing disekitar Townsville. Dan lebih banyak lagi pilot yang turut terbang “Mencicipi” CN 235 yang selama di Australia mendapat Operation Nickname “ PHOENIX” . Bahkan PHOENIX sempat dipamerkan dalam acara OPEN HOUSE bagi penduduk sekitar Townsville.
Next destination adalah Amberley, salah satu Airforce Base di sekitar Brisbane, kegiatan yang sama dilakukan, tetapi disini lebih banyak discussion meliputi logistic support dari field level sampai Depot level, mereka benar2 detail dalam pernyiapan Logistic / Spare support sampai 25 years planningnya. Di Amberley tdk terlalu banyak dilakukan flight, hanya beberapa flight itupun Joy flight bagi Project Staff Officer (Logistik dan teknik ).
Dari Amberley kami menuju Richmond Airforce Base, di sekitar Sidney. Di Richmond ini kami benar2 kerja keras karena Richmond base ini adalah pusatnya AMTDU ( Air Mobile Tactical Deployment Unit ) nya Australia, kalau di Indonesia mungkin setara dengan PERBEKUD. Selama hampir satu minggu RAAF melakukan assessment meliputi Vehicle loading Unloading, melalui Ramp Door. Agak menegangkan juga karena yg di loading adalah 6 wheels LAND ROVER yang cukup panjang sehingga kaca depan perlu direbahkan, untuk bisa loading ke dalam perut PHOENIX.
Selain itu dilakukan juga real Cargo Drop dari mulai yang terkecil A-22, sampai Heavy Cargo, bahkan dilakukan juga LAPES ( Low Altitude Parachute Extraction System ) dimana kami terbang hanya sekita2 satu meter AGL kemudian load direlease dengan Drog Chute dan kemudian Extraction Chute. Juga dilakukan Static jump utk Army, kemudian beberapa sorties freefall utk Special Force yang dilakukan di NAVY Base, Nowra.
Puas dengan seluruh type of mission kamipun kemudian menuju Canbera, utk dilakukan assessment oleh para Project Office Staff dari seluruh aspect operational, support bahkan financialnya. Diskusi disisi cukup alot karena mereka juga sekaligus mengumpulkan bahan untuk menyusun TECH SPEC yang akan digunakan sebagai Biding Requirement/ Tender.
Saingan pada waktu itu adalah G-27 (ex 222?) ALENIA Italy yang pada saat itu sebenarnya pabriknya sdh tdk exist, menanti uluran tangan salah satu perusahaan Amerika untuk take over, selain kelas pesawatnyapun terlalu besar utk Caribou replacement. Dari Canberra kami kemudian menuju AVALON, Melbourne untuk mengikuti Airshow selama sekitar satu Minggu.
Avalon mempunyai karakteristik Runway yang agak aneh, entah bagaimana sejarah designya dulu karena hampir selalu mengalami cross wind most of the time. Sangat membanggakan saat itu karena pada Airshow tersebut setiap kami melakukan Dynamic display, selalu di announce bahwa PHOENIX adalah salah satu calon pengganti Caribou, menambah optimisme kami untuk bisa memenangkan tender 2 Squadron PHOENIX.
Namun demikian kami sempat pula ditegur oleh Airshow Flight Director, pada saat melakukan Dynamic Airshow, Erwin Alm saat itu terbang sangat bersemangat, pada saat atraksi wing over 120 derajat, kami level off recovery dibawah 500 feet. Sehingga tegurannya cukup keras dan komentarnya “ That was very attractive, however, you guys were not in a fighter aircraft so you don’t have to go over the top” kami hanya tersipu2 mendapat teguran tsb, walaupun public sebenarnya sangat impressed.
Kamipun sempat mengalami pecah ban pada hari pertama show, mungkin kami terlalu excited pada hari pembukaan tersebut. Untuk membuat lebih impressed kami lakukan short landing sependek2nya tapi dng cross wind yang cukup besar un even landing membuat ban pecah pada saat braking. Thanks God kami punya teman2 logistic yang memang stand by dng spare di Tulamarine sehingga kondisi segera diatasi.
Di Avalon kami sempat bertemu beberapa pengambil keputusan ditingkat kementerian yang menyatakan malu kepada Indonesia yang mampu membuat pesawat semacam PHOENIX tsb. Sementara Australia belum punya produk lain selain kelas NOMAD.
Bahkan beberapa opposition leader seperti Shadow minister of Labour? , yang konon terkenal keras, berkomentar sangat positif bahwa beliau pribadi akan mensupport program PHOENIX. Dan tentu saja Airforce Chief of Staff ( Marshal Fischer? ) termasuk yang sangat tertarik dng ability CN-235 PHOENIX .
Seusai Airshow, tugas kami belum selesai karena masih ada lagi assessment teknis yang akan dilakukan oleh Australian ARDU ( Air Research and Development Unit ) di Edinburgh- Adelaide. Selama beberapa hari ARDU dengan test pilot Dutchy Holland dan Robin Wiiliams melakukan Assessment secara TEKNIS dalam aspect Performance, Handling quality, Mission system, termasuk NVG Demonstration disekitar lembah2 Adelaide. Memang pesawat UAE yang kami gunakan sdh NVG Compatible untuk Gen III. Sehingga beberapa kali kami melakukan night Mission under NVG Gen III sampai jam 1 pagi.
Setelah 4 hari di ARDU Facility, kami bertolak pulang ke Bandung melalui Alice Spring, Darwin dan Denpasar, mengakhiri PHOENIX mission kami selama lk 5 Minggu di Australia. Pada tahun 1997 kami kembali mengikuti kembali Avalon airshow, tetapi itu semua ternyata terasa useless karena IPTN menyatakan pull out dari PHOENIX program. Memang saat itu kami merasa sangat kecewa. Mengingat di Bandung pun teman2 sdh sudah mulai melakukan development program untuk meng improved CN-235 menjadi versi-330 PHOENIX.
Tapi apa mau dikata jangankan IPTN, negarapun saat itu berada dalam survival mode, dimana memang banyak perlu dikorbankan untuk dapat survive. Tetapi kami masih boleh bangga, karena selanjutnya IPTN yang kemudian dalam era pemerintahan Gus Dur berubah menjadi PT Dirgantara Indonesia. Berhasil keluar dari kemelut dengan berhasil mendeliver CN-235 -220 ke Malaysia, Korea, bahkan Pakistan Airforce yang tdk sedikit jumlahnya. Demikianlah ternyata tidak pernah ada pengorbanan yang sia2. PHOENIX Project tdk pernah terwujud tetapi project2 lain berhasil diraih termasuk 4 pesawat utk Korean Coast Guard pada th 2008 yl.

Demikianlah sekelumit perjalanan dalam usaha menduniakan CN-235

6/09/2013

Flightsim B737-800 NG Untuk Edutainment Masyarakat


Flight Experience, sebuah perusahaan entertainment untuk simulator pesawat hari ini, Jumat (31/5/2013) resmi meluncurkan perangkat mirip simulator Boeing 737-800. Menariknya, simulator yang hadir di salah satu pusat perbelanjaan ini lebih dikhususkan untuk masyarakat umum yang ingin merasakan pengalaman menjadi seorang penerbang pesawat jet.

Ditemui di sela-sela acara launching, Indra Hardiawan, Director dari Flight Experience Indonesia mengatakan, pihaknya sengaja menghadirkan simulator pesawat tersebut di pusat perbelanjaan agar masyarakat umum dapat dengan mudah mencapainya. “Konsep kami adalah edutainment, jadi kami sengaja mendekatkan diri kepada masyarakat,” ujarnya kepada Angkasa.

Kokpit simulator buatan Pacific Simulator asal Selandia Baru ini dirancang seratus persen mirip dengan kokpit pesawat Boeing 737-800 NG. Namun perangkat ini tidak bisa bergerak-gerak sebagaimana simulator B737-800 NG sungguhan.



Untuk menikmati sensasi terbang sebagai seorang pilot, masyarakat bisa langsung mereservasi boarding pass di gerai Flight Experience Gandaria City, Jakarta Selatan. Siapkan uang Rp. 950 ribu hingga Rp. 2 juta untuk beberapa pilihan paket terbang, mulai dari 30 menit hingga dua jam. Cukup mahal memang, namun dengan harga itu masyarakat bisa bebas memilih 24 ribu bandara dari seluruh dunia.

Ke depan, Indra mengatakan bahwa pihaknya akan segera menggandeng maskapai dan sekolah penerbangan sebagai tempat untuk melatih calon pilot-pilot mereka. “Untuk pilot training itu akan berada di bawah Anaya Sky, salah satu bagian dari Flight Experience,” jelasnya. 
Sumber : Angkasa Online

5/09/2013

Unik, Salam Pantun Citilink



            Citilink terus meningkatkan layanan terbaik kepada seluruh penggunanya. Hari Selasa ( 7/ 5/ 2013), Vice President Marketing & Communication PT Citilink Indonesia, Aristo Kristandyo, mengumumkan penerapan prosedur terbaru di dalam kabin pesawat, yaitu Salam Pantun oleh awak kabin di setiap penerbangan Citilink ke seluruh destinasi. Salam Pantun ini dimulai efektif Minggu, 5 Mei 2013.

            “Pantun merupakan salah satu jenis puisi lama yang sangat luas dikenal dalam bahasa-bahasa Nusantara.Salam Pantun oleh seluruh awak kabin kami ini menjadi bagian dari komitmen kami untuk meningkatkan layanan terbaik sesuai dengan semangat Citilink sebagai maskapai LCC yang fun, affordable, and reliable. Kami yakin dengan ciri khas kami yang baru ini memberikan pengalaman tak terlupakan bersama Ciitilink,” ujar Aristo.

            Salam Pantun menjadi prosedur tetap dari Citilink untuk menyapa seluruh penumpang baik sebelum lepas landas dan mendarat di kota tujuan. Isi Salam Pantun yang menjadi ciri khas terbaru Citilink ini akan menyesuaikan dengan setiap kota destinasi.

            “Tidak menutup kemungkinan Salam Pantun ini akan menjadi menarik saat ada penumpang yang akan berbalas pantun di atas udara,” tambah Aristo.

            Aristo juga mengungkapkan bahwa Citilink akan terus menghadirkan inovasi dalam pelayanan Citilink di masa mendatang.
Sumber : Angkasa Online