Tampilkan postingan dengan label Pesawat sipil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesawat sipil. Tampilkan semua postingan

11/16/2013

[ENGLISH SECTION] The TF-X Will Be the First Flying Car That Actually Works Like a Flying Car


Image: The TF-X concept from Terrafugia
The dawn of the flying car is nigh. A company called Terrafugia has been working to bring the first airborne sedan, the Transition, to the masses since 2006. Yesterday, it announced that it will finally deliver its first unit in 2015. Unfortunately, the clumsy Transition is really nothing like the flying cars humans have fantasized about zipping around in ever since the Jetsons. But Terrafugia also announced that it's working on an alternate model, the TF-X, that is: a vehicle that will take off vertically with rotor propellers, fly with the wings of a private jet, and drive like a street-legal sedan. In other words, a flying car built to sci-fi spec—just as we always imagined it.
See, the Transition, the one coming to market in two years, is more private jet than flying car. It looks sort of a like a toy airplane that was dropped in a trash compactor: 
The Transition must be driven to an airfield and outfitted for flight—in other words, the flying car presents few discernible advantages over just having a small plane, other than the novelty factor, which would mostly just result in people giving you puzzled looks as you cruised by in a pod version of the Bluth stair car. Also, it costs $300,000. 
So all you flying car aficionados out there might want to save your cash until Terrafugia introduces the TF-X. Because this one might actually be a game-changer. 
The TF-X is everything the Transition is not: it's a leap forward. It actually offers a distinct departure from current transportation paradigms. The TF-X can be taken to flight from a helicopter pad—or a parking lot. According to Terrafugia, the vehicle will carry four people "in car-like comfort," boast a nonstop flight range of 500 miles, fit in a single car garage, take off vertically from a clearing that's just 100 feet in diameter, and will be road and highway ready. It actually gets us one step closer to Blade Runner. 
The company also insists that any driver will be able to learn to pilot the airborne vehicle within a mere five hours—though they'll still have to get their pilot's license.
Sure, it's still a little goofy. It's also the FAA's nightmare come true: flying cars taking off and soaring across suburbia at will would usher in a new era of trasportation mayhem. If Terrafugia's plans ever attract enough investment to enable them to sell a high volume of these things, there's obviously going to have to be some serious work done to hash out what traffic rules might look like for omni-directional airborne transit. 
Still, it's easy to imagine lots of affluent folks getting excited about this idea: soaring over increasingly congested commutes, skipping right from the local suburban Walmart parking lot to the roof of the parking structure at the office downtown. I joked about it earlier, but the novelty factor is not to be underestimated, either—millions of well-off baby boomers, not to mention millions of older and younger generations, grew up dreaming about sci-fi and flying cars. Some of them will no doubt be willing to dip into their savings to live out that fantasy in real life. Transfugia is betting on it—and they are flying cars, after all.
Source : MOTHERBOARD

10/20/2013

NAM Air Akan Gunakan Pesawat Produksi Perusahaan B.J Habibie




NAM Air, maskapai anak perusahaan dari Sriwijaya air, diresmikan pada Kamis (26/9/2013) oleh Direktur Utama Sriwijaya Air, Chandra Lie di Jakarta. Maskapai ini telah memperoleh Surat Izin Usaha Angkutan Udara Niaga Berjadwal dengan nomor SIUAU/NB – 031, tanggal 2 Agustus 2013. Namun demikian, ijin mengoeprasikan pesawat  (Air Operator Certificate/ AOC) sampai saat ini masih dalam proses di Kementerian Perhubungan.

“Kami berharap tanggal 1 Oktober, AOC sudah kami dapatkan dan bisa langsung melakukan penerbangan perdana,” ujar Chandara Lie.

Dalam kesempatan peluncuran maskapai barunya tersebut, Sriwijaya Air juga menandatangani komitmen dengan PT Regio Aviasi Industri (RAI) untuk pembelian  pesawat R-80 yang akan diproduksi PT RAI. “Kami sudah memesan 100 unit pesawat R-80. Hingga sampai saat ini 50 unit firm, 50 unit lagi opsi,” ujar CEO NAM Air Jefferson Jauwena.

Sebagai langkah awal untuk mendapatkan AOC, NAM Air akan menggunakan lima pesawat B737-500. Selanjutnya, maskapai ini juga menjajagi untuk membeli pesawat ATR 72 atau Bombardier Q400. Namun, menurut Jefferson,  semua pesawat itu hanyalah pesawat antara sebelum akhirnya nanti akan menggunakan R-80.

Pesawat R-80 sendiri, sampai saat ini masih dalam penggodokan oleh PT RAI. Presiden Komisaris PT RAI, BJ Habibie mengungkapkan kegembiraannya, karena pada akhirnya ada maskapai yang mau berkomitmen menggunakan pesawat yang dinyatakan sebagai asli buatan Indonesia tersebut. “Saya yang memimpin sendiri rapat soal pembuatan pesawat ini. pada tahun 2016-2017, pesawat ini akan mengudara,” ujarnya optimis. (gat)
Source : Angkasa Online

8/29/2013

Sriwijaya Pensiunkan B737-200





Diiringi suasana haru dan suara tercekat para kru, Sriwijaya akhirnya secara resmi menghentikan operasi 10 pesawat terakhir Boeing B737-200 pada Jumat (23/8/2013) lalu.  Acara pelepasan dilakukan di kantor Sriwijaya Air di Cengkareng, oleh Direktur Utama Sriwijaya Air, Chandra Lie. Selanjutnya, Sriwijaya akan mengganti pesawatnya dengan jenis Boeing B737-300/ 400/ 500 W dan -800NG.
“Kami dari Sriwijaya menghaturkan sangat terimakasih pada pesawat ini. karena pesawat inilah cikal bakal operasional Sriwijaya hingga kemudian berkembang besar seperti sekarang ini,” ujar Chandra Lie.
Sriwijaya termasuk maskapai di tanah air yang paling besar mengoperasikan pesawat jenis ini. Tercatat maskapai ini pernah mengoperasikan 12  pesawat hingga kemudian tinggal 10 pesawat. Dari 10 pesawat itu, yang dimiliki Sriwijaya hanyalah 4 pesawat. Sisanya pesawat sewa.

Enam pesawat sewa selanjutnya akan dikembalikan ke lessor. Sedangkan empat pesawat yang dipunyai akan dijual. Menurut Direktur Komersial Sriwijaya, Toto Nursatyo, pesawat B737-200 Garuda ini masih terhitung baru. “Ada yang buatan tahun 1996,” ujarnya. Menurutnya, pesawat jenis ini masih banyak digunakan di Afrika. Dan ke daerah itulah agaknya pesawat Sriwijaya akan dijual.
Sumber : Angkasa Online

Mau Tau Tarif Wi-Fi di Garuda? Ini, Nih!

FOTO. Penggunaan Wi-Fi di Pesawat Garuda

Direktur Pemasaran Garuda Indonesia Erick Meijer mengungkapkan rencana tarif layanan internet (wi-fi) di pesawat Garuda antara 15-20 dolar AS per jam. Tarif tersebut, menurut Erick tidak terlalu mahal. “Rata-rata segitu yang dijual oleh maskapai lain,” ujarnya usai konferensi pers GATF 2013 hari ini, Rabu (28/8) di Jakarta.
Layanan internet di pesawat Garuda pada saat ini memang masih belum dikomersialkan. “Kami baru mendapatkan ijin penyelenggaraan, bukan komersial.  Untuk dapat ijin komersial harus ada rencana bisnis dan sebagainya,” ujar Erick. Untuk pengadaan layanan internet ini, Garuda bekerjasama dengan Telkomsel.
Sampai  saat ini, layanan wi-fi baru diujicobakan di dua pesawat Boeing B777-300 ER yang sudah bergabung di armada Garuda. Dua pesawat ini melayani penerbangan ke luar negeri. Di antaranya ke Jepang dan Korea Selatan.
Secara pribadi, menurut Erick, dirinya menginginkan layanan ini segera dikomersialkan. Karena layanan ini sudah diterapkan di beberapa pesawat milik maskapai luar negeri yang menjadi saingan Garuda.
Sumber : Angkasa Online

8/18/2013

10 Pesawat Penumpang Terbesar di Dunia

Perjalanan yang paling cepat sampai tujuan adalah dengan menggunakan pesawat terbang. Jarak ribuan kilometer dapat dengan cepat ditempuh hanya hitungan jam dari pada dengan jalan darat atau laut yang memakan waktu berhari-hari. Pesawat telah digunakan oleh manusia sebagai transportasi cepat sejak 1900an.
Menumpang pesawat berbadan besar dengan fasilitas yang mewah adalah suatu kebanggaan tersendiri. Bangga menjadi salah satu dari ratusan penumpang sebuah pesawat berbadan besar karena tidak setiap orang bisa memiliki kesempatan untuk menaiki burung besi ini. Harga tiket yang mahal sebanding dengan fasilitas mewah yang diberikan pada pesawat tersebut.
Di era modern saat ini banyak pesawat yang berbadan besar, namun apakah pesawat-pesawat tersebut sudah dikatakan besar? Kategori pesawat besar di sini adalah pesawat penumpang komersial yang memiliki hingga ratusan penumpang dalam sekali penerbangan. Berikut ini 10 pesawat penumpang terbesar seperti yang dilansir The Richest (14/05/2013).
1. Airbus A380 900 (900 kursi)
pesawat1Airbus A380 900 adalah pesawat penumpang dari Perancis dengan rentang perjalanan dari 8.100 mil laut atau 15.000 kilometer. Pesawat ini dapat mengangkut 900 penumpang dalam satu pengaturan kelas dan 656 dalam konfigurasi kelas ganda. Biaya pesawat $ 337,5 juta. Empat Rolls Royce Trent mesin B digunakan untuk membantu pesawat mencapai kecepatan jelajah maksimum 676 mil per jam dan ketinggian terbang maksimum 43.000 kaki.
2. Airbus A380 800 (853 kursi)
Airbus A380 800 adalah pesawat penumpang dibuat di Perancis dengan kapasitas 853 penumpang dalam satu kelas atau 644 di kelas dua tingkat. Pesawat ini memiliki berbagai perjalanan 8.208 mil laut atau 15.200 kilometer. Biaya pesawat $ 318 juta. Empat Rolls Royce Trent mesin 970B di 70.000 lbf listrik pesawat. Maksimum jelajah kecepatan 676 mil per jam dengan ketinggian terbang 43.000 kaki. Airbus telah menjual 192 unit model ini.
3. Boeing 747 8 (700 kursi)
pesawat3Boeing 747 8 adalah pesawat penumpang yang diproduksi di Amerika Serikat. Hal ini dapat menampung 700 penumpang jika sistem kelas tunggal diikuti, sementara 600 kursi tersedia dalam konfigurasi kelas ganda. Pesawat ini memiliki rentang perjalanan dari 8 ribu mil laut atau 14.816 kilometer. Empat General Electric GEnx 2B67 dengan 66.500 lbf listrik pesawat. Kecepatan jelajah maksimum 649 mil per jam. Pesawat ini terbang pada ketinggian 43 ribu kaki. Hanya lima unit telah terjual di $ 351,4 juta.
4. Boeing 747 400 (624 kursi)
Boeing 747 400 adalah pesawat penumpang yang dibuat di Amerika Serikat yang dapat mengakomodasi 624 penumpang dalam kelas tunggal yang ditetapkan dan 524 di kelas dua sistem. Pesawat ini memiliki berbagai perjalanan 7.260 mil laut atau 13.446 kilometer. Pesawat ini memiliki empat mesin General Electric GE CF6 80C2B5F di 62.100 lbf untuk memberikan kekuatannya. Kecepatan jelajah maksimumnya adalah 565,47 mil per jam dan dan terbang pada ketinggian 45 ribu kaki. Biaya pesawat $ 228 juta. Boeing telah terjual 1.358 unit model ini.
5. Boeing 777 300 (550 kursi)
pesawat5Boeing 777 300 adalah pesawat penumpang yang diproduksi di Amerika Serikat dengan kapasitas kursi 550 orang di kelas tunggal yang ditetapkan dan 451 di kelas dua konfigurasi. Pesawat ini memiliki berbagai perjalanan 6.013 mil laut atau 11.135 kilometer. Dua Rolls Royce RR 892 mesin di 92.000 lbf listrik pesawat. Maksimum jelajah kecepatan 587 mil per jam dan ketinggian terbang 43.100 kaki. Boeing telah menjual 60 unit model ini dengan harga $ 279 juta.
6. Airbus A380 700 (525 kursi)
pesawat6Airbus A380 700 adalah pesawat penumpang dari Perancis dengan rentang perjalanan dari 8.700 mil laut atau 16.112 kilometer. Pesawat ini dapat mengangkut 525 penumpang dalam satu konfigurasi kelas dan 480 di kelas dua set up. Biaya pesawat $ 301 juta. Empat Mesin Alliance GP 7270 mesin di 70.000 lbf. Maksimum jelajah kecepatan 676 mil per jam sedangkan ketinggian terbang 43.000 kaki. Hal ini dapat meningkat di tingkat 4.500 fpm.
7. Boeing 777 200 (440 kursi)
pesawat7Boeing 777 200 adalah pesawat penumpang yang dibuat di Amerika Serikat. Hal ini dapat mengakomodasi 440 penumpang dalam sistem kelas tunggal dan 400 di kelas dua konfigurasi. Ia memiliki berbagai perjalanan 14.260 kilometer atau 7.700 mil laut. Pesawat ini didukung oleh beberapa Pratt dan Whitney PW 4090 mesin di 90.000 lbf. Kecepatan jelajah maksimum 587 mil per jam dan ketinggian terbang 43.100 kaki. Boeing telah terjual 439 unit. Harga adalah $ 258,8 juta.
8. Airbus A340 600 (420 kursi)
pesawat8Airbus A340 600 adalah pesawat penumpang dari Perancis yang dapat menampung 420 penumpang dalam sistem kelas tunggal dan 380 dalam susunan kelas ganda. Pesawat ini memiliki berbagai perjalanan 7.750 mil laut atau 14.353 kilometer. Empat Rolls Royce Trent 556 daya mesin pesawat dengan avionik oleh Thales Smiths. Kecepatan maksimum jelajah adalah 580 mil per jam dan dapat terbang pada ketinggian 39.000 kaki di udara. Airbus telah menjual total 48 unit model ini. Harga adalah $ 245 juta.
9. Airbus A340 500 (372 kursi)
pesawat9Airbus A340 500 adalah pesawat penumpang yang diproduksi di Perancis. Pesawat ini datang di 2006, meskipun ada pengiriman awal tahun 2002. Pesawat ini dirancang untuk 372 penumpang dalam susunan kursi kelas tunggal dan 313 dalam sistem kelas ganda. Perjalanan berbagai pesawat ini adalah 9.018 mil laut atau 16.700 kilometer. Sebuah unit tunggal dari biaya pesawat sekitar $ 233 juta. Ketika pertama kali diperkenalkan, pesawat ini ditagih sebagai pesawat penumpang dengan rentang terpanjang. Hal ini didukung oleh empat 53.000 lbf dorong Rolls Royce Trent 553 turbofan dan menggunakan Honeywell 331-600 (A) APU. Pesawat ini adalah salah satu dari pesawat dari pilihan Emirates, yang memiliki 10 unit model ini. Airbus telah
menjual 22 unit model ini.
10. Airbus A340 300 (295 kursi)
pesawat10Airbus A340 300 adalah pesawat penumpang yang dibuat di Perancis. Pesawat ini adalah pertama diproduksi pada tahun 1993 dan dapat menampung 295 penumpang di kursi kelas pengaturan satu dan 267 dalam sistem kelas dua. Pesawat ini memiliki berbagai perjalanan 7.400 nautical mil atau 13.705 kilometer. Harganya saat ini adalah antara $ 211 juta ke $ 219 juta. Pesawat ini adalah versi awal dari A340 dan pengguna pertama adalah Lufthansa dan Air France pada Maret 1993. Pesawat ini didukung oleh empat CFMI CFM56-5C mesin dan membuat penggunaan Honeywell 331-350 (A) APU. Airbus telah menjual 246 unit model ini.

2016, Indonesia Coba Biofuel Untuk Penerbangan

BIOFUEL


Tahun 2016 nanti, Indonesia ditargetkan  mulai melakukan pengunaan biofuel untuk operasional penerbangan pesawat. Hal ini merupakan salah satu komitmen Indonesia dalam pengurangan emisi gas buang dalam bidang penerbangan.  Menurut Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Herry Bhakti,  Pemerintah saat ini sedang menyusun peta jalan (roadmap) untuk pengurangan emisi gas buang secara nasional. Termasuk di bidang penerbangan.

Pemerintah juga sudah menggandeng beberapa stakeholder seperti maskapai Garuda Indonesia dan Pertamina Aviation untuk mendukung hal itu.

Garuda Indonesia menyatakan mendukung program tersebut. Menurut Direktur Operasi Garuda Capt. Novianto Herupratomo, Garuda telah melakukan beberapa penghematan operasional sehingga bisa menghemat pemakaian bahan bakar sekitar 2,3 % per tahun. Jumlah itu lebih besar dibanding target dari Asosiasi Operator Maskapai Penerbangan Internasonal (IATA) yang sebesar 1 % per tahun.

“Garuda tiap tahun menggunakan avtur antara 700 juta sampai 1,2 miliar liter. Jadi kalau penghematan 2,3 %, bisa dikatakan menghemat sekitar 20 juta liter,” ujarnya.

Menurut Novianto, Garuda siap jika harus uji coba menggunakan biofuel. “Biofuel itu kan seperti avtur, Cuma gas buangnya lebih ramah lingkungan. Mesin pesawat yang digunakan juga sama, tidak banyak perubahan,” lanjutnya lagi. Jika ada perusahaan di Indonesia yang menjual biofuel, Garuda siap untuk membeli, dengan catatan harganya kompetitif dibanding  harga avtur.

Sementara itu, Pertamina juga menyatakan siap jika harus menyediakan biofuel. “Saat ini kita terus melakukan penelitian tentang biofuel,” ujar Asisten  Manajer Planning and Marketing Pertamina, Tengku Johan Miftah.
Di dunia penerbangan Internasional, ujicoba penggunaan biofuel sudah berkali-kali digunakan. Maskapai Lufthansa dari Jerman bahkan sudah berhasil melaksanakan ujicoba perjalanan pesawatnya dari Jerman menuju AS, melewati Samudera Atlantik. Dalam uji coba itu, pesawat menggunakan campuran 50 % avtur dan 50 % biofuel. (gatot r
Sumber : Angkasa Online

6/10/2013

MA-60 Merpati Kecelakaan Di Kupang


Sebuah pesawat MA-60 yang dioperasikan maskapai  Merpati Nusantara mengalami kecelakaan di Bandara El Tari- Kupang hari ini , Senin (10/6/2013). Pesawat dengan nomor penerbangan MZ 6517 jurusan Bajawa (BJW) – Kupang (KOE) tersebut tampak tersuruk di landasan pacu  07 Bandara El Tari. Dari foto yang diterima Angkasa, terlihat pesawattotal loss. Roda depan tidak terlihat. Begitu pula baling-baling di kanan-kiri pesawat juga terlepas. Sedangkan sayap pesawat terangkat dari badan pesawat.

Saat ini pesawat tengah dievakuasi  untuk memperlancar operasional bandara. Pesawat dievakuasi  sambil menunggu tim dari Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) melakukan investigasi.

Menurut manifest, pesawat membawa 45 penumpang dewasa dan satu bayi serta empat kru. “Seluruh penumpang dan kru pesawat selamat. Setelah dilakukan evakuasi, seluruh penumpang dibawa ke VIP Lounge. Namun satu penumpang dewasa di bawa ke RS.AURI untuk dilakukan pengecekan kesehatan,’’ ujar  Corporate Secretary PT.Merpati Nusantara Airlines Herry Saptanto.

Menurut Herry, awalnya pesawat terbang dengan rute Kupang – Bajawa pukul 07.40 WITA kemudian kembali terbang dari Bajawa menuju Kupang  pukul 09.00 WITA  dengan ETA  jam 09.40 WITA. Menurut rencana Pesawat tersebut akan menerbangi rute Kupang – Waingapu pp  dan  Kupang – Alor pp. “Dengan adanya kejadian ini Merpati akan menyiapkan pesawat pengganti agar pelayanan ke kota – kota tersebut tidak terganggu,” ujar Herry lagi.

Herry tidak mau berandai-andai tentang penyebab kecelakaan. Pihak manajemen Merpati masih menunggu hasil investigasi  oleh KNKT guna mengetahui sebab-sebab kecelakaan. Namun demikian Herry menegaskan pesawat tersebut laik terbang. Pesawat tersebut pertama kali digunakan di Merpati pada Desember 2010.

Untuk  soal penanganan bagasi , muatan barang dan pengobatan penumpang, Herry berjanji akan dilakukan sesuai ketentuan yang diatur dalam  UU Penerbangan. Untuk itu, yang merasa berkebutuhan bisa menghubungi telp 08161459335 , 08111464473  dan 021 6548888 Ext.6160

5/12/2013

Pesawat Penyemprot Pupuk Jatuh di Mesuji


LAMPUNG - Sebuah pesawat penyemprot pupuk jenis Fletcher FU 24-950 milik perusahaan sawit PT Sumber Indah Perkasa (SIP) jatuh di wilayah perkebunan sawit di Mesuji, Sabtu (11/5). Kepolisian Daerah (Polda) Lampung melaporkan, pesawat jatuh sekitar tiga menit setelah lepas landas, sekitar pukul 11.30 WIB.
Ilustrasi Pesawat Jatuh
Kabid Humas Polda Lampung, AKBP Sulistyaningsih mengatakan, kecelakaan tersebut menyebabkan seorang pilot tewas.
"Pilot tersebut bernama Muhammad Adipura (46 tahun), asal Bogor. Ia tewas dengan kondisi terluka parah di bagian kepala dan kakinya patah. Kondisi pesawat pun ringsek. Almarhum bertempat tinggal di Vila Duta RT 02/11, Bogor," katanya.
Menurut Sulistyaningsih, lokasi jatuhnya pesawat yang digunakan untuk menyemprot pupuk itu tepat di wilayah Merah Tiga, Desa Sidang Gunung Tiga, Rawajitu Utara, Kabupaten Mesuji, Lampung. Kawasan ini masih termasuk di dalam kawasan perkebunan sawit PT SIP.
Kepala Desa Sidang Gunung Tiga Yusuf Arafuli (30) yang dihubungi VIVAnews mengungkapkan, ia sempat melihat pesawat tersebut lepas landas.
"Sekitar tiga menit kemudian, pesawat hilang dari langit, hanya terdengar suara baling-balingnya saja. Tidak tahunya jatuh di dekat kantor (PT SIP) Merah Tiga," ujarnya.
Beruntung, pesawat yang mengangkut 1,3 ton pupuk itu jatuh tidak sampai menimpa pemukiman penduduk di wilayah Desa Sidang Gunung Tiga. Warga sempat kaget mendengar ada suara benda besar jatuh itu.
Padahal, kata Yusuf, saat itu cuacanya cerah, tidak hujan, dan tidak ada angin kencang. Penyebab jatuhnya pesawat tersebut kini masih diselidiki pihak kepolisian Lampung

NC212 Aviocar



Foto Kredit: PT Dirgantara Indonesia
NC212 "Aviocar" adalah pesawat angkut ringan yang dirancang untuk beroperasi di daerah yang tidak memiliki infrastruktur yang lengkap dan cuma memiliki landasan yang diperkeras (unpaved runways).  Pesawat ini dirancang dengan sayap berada pada bagian atas badan pesawat atau dikenal dengan istilah "high wing configuration" dan roda pendarat yang tidak bisa dimasukkan (fix landing gear).  NC-212 ditenagai oleh dua buah mesin turboprop dan memiliki kemampuan lepas landas dan mendarat di landasan pendek (STOL=Short Take Off and Landing).
PT Dirgantara Indonesia, memproduksi dua seri NC212, yaitu seri 200 dan seri 400 dimana seri 400 memiliki dimensi dan berat lepas landas maksimal yang lebih besar dibanding seri 200.  Untuk setiap seri, PTDI memproduksi beberapa versi misalnya untuk seri 200 ada versi  militer (military version), versi misi khusus (special mission version) dan versi sipil.
Untuk NC212-400, versi yang tersedia dari PT DI adalah versi Militer, MPA (Marine Patrol Aircraft), Sipil, dan Versi Survei Geofisis (Geophysical Survey).  Yang membedakan dari setiap versi adalah kelengkapan yang menyertainya, misalnya untuk versi militer maka lebih difokuskan untuk angkut ringan sedang versi MPA, sesuai namanya memiliki perlengkapan untuk melakukan patroli maritim.
Dibawah ini adalah spesifikasi Umum dari NC212-200
Misi:
  • Sipil/Komersial (18 hingga 24 seat)
  • Angkut Militer
  • Angkut Barang
  • Operasi Evakuasi Medis
  • Misi Khusus
  • Angkut VIP
Berat:
  • Max. Taxi Weight: 7.750 kg
  • Max. Take-Off Weight: 7.700 kg
  • Max. Landing Weight: 7.450 kg
  • Max. Zero Fuel Weight: 7.100 kg
  • Fuel Capacity: 1.600 kg
  • Max. Payload: 2.820 kg
Sumber Tenaga:
  • Mesin: 2 Garret TPE-331-10R-512C Turboprop, 900 SHP, SL, Static Take-Off with APR
  • Propeller: 2 (4 bilah) Dowty Rotol R334/4-82-F/13, Diameter 2.75m
Kemampuan:
  • Take Off Distance (MTOW, ISA+20,SL):
    • All Engine Operative (EO): 850m/2.788ft
    • One Engine In-Operative (OEI): 990m/3.428ft
  • Rate of Climb: 236 feet per minute
  • Max. Cruise Speed: 188 ktas
  • Max. Endurance Speed: 130 ktas
  • Long Range Cruise Speed: 188 ktas
  • Max. Range: 710 nm
  • Landing Distance: 590m/1.936 ft
  • Max. Endurance (for Maritime Patrol): 6 hrs
  • Sumber : Angkasa Readers Community

3/25/2013

N2130... Proyek Terlupakan IPTN

Pesawat N-2130 adalah pesawat jet komuter berkapasitas 80-130 penumpang rancangan asli IPTN (Sekarang PT Dirgantara Indonesia,PT DI, Indonesian Aerospace), Indonesia. Menggunakan kode N yang berarti Nusantara menunjukkan bahwa desain, produksi dan perhitungannya dikerjakan di Indonesia atau bahkan Nurtanio, yang merupakan pendiri dan perintis industri penerbangan di Indonesia.

Sejarah

Pada 10 November 1995, bertepatan dengan terbang perdana N-250, Presiden Soeharto mengumumkan proyek N-2130. Soeharto mengajak rakyat Indonesia untuk menjadikan proyek N-2130 sebagai proyek nasional. N-2130 yang diperkirakan akan menelan dana dua milyar dollar AS itu, tandasnya, akan dibuat secara gotong-royong melalui penjualan dua juta lembar saham dengan harga pecahan 1.000 dollar AS. Untuk itu dibentuklah perusahaan PT Dua Satu Tiga Puluh (PT DSTP) untuk melaksanakan proyek besar ini.
Saat badai krisis moneter 1997 menerpa Indonesia, PT DSTP limbung. Setahun kemudian akibat adanya ketidakstabilan politik dan penyimpangan pendanaan, mayoritas pemegang saham melalui RUPSLB (Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa) 15 Desember 1998 meminta PT DSTP untuk melikuidasi diri.
Untuk preliminary design pesawat ini, IPTN telah mengeluarkan tenaga, pikiran, dan uang yang tak kecil. Dana yang telah dikeluarkan lebih dari 70 juta dollar AS yang sesuai keputusan RUPSLB, dana bagi ini selanjutnya dianggap sunk-cost.
Seluruh kekayaan perseroan selanjutnya diaudit dimana hasil disampaikan kepada Bapepam tanggal 22 April 1999 dan diumumkan lewat media massa. Pembayaran hasil likuidasi kepada para pemegang sahamnya sendiri kemudian dilakukan bertahap mulai 9 Agustus hingga 15 Oktober 1999.

Spesifikasi Pesawat

Pada saat konsep desain, N-2130 dipertimbangkan untuk 80, 100 atau 130 penumpang. Pesawat ini dilengkapi dengan teknologi canggih advanced fly-by-wire system.


DIMENSI 80 pax 100 pax 130 pax
Sayap:
Luas (m²)
Rentang (m)
Aspect Ratio
Sweepback (0.25°)

102.80
28.95
8.20
24.30

102.80
28.95
8.20
24.30

102.80
28.95
8.20
24.30
Panjang total (m) 27.23 29.65 33.37
Diameter fuselage 3.91 3.91 3.91
Berat
Berat Take-Off Max. (kg)
Berat Landing Max. (kg)
Beban angkut (Payload) Max. (kg)

43.500
40.000
10.500

49.000
45.000
12.300

55.800
51.000
15.300
Mesin
High By-Pass Ratio Turbofan Engine
Sea Level Static Thrust (kN)

2 x 75

2 x 82

2 x 97.5



Sumber : N-2130 - Wikipedia
by @JamalHabibur @JamalHRahman Jamal Habibur Rahman Jamal Rahman

3/09/2013

Pesawat Raksasa Boeing 797 Siap Diluncurkan


Pembuat pesawat Boeing mempersiapkan jenis pesawat jet berkapasitas penumpang 1.000 orang, model yang disebut-sebut bisa mengubah industri perjalanan udara untuk 100 tahun kedepan.
Pesawat yang didesain secara radikal dikembangkan oleh Boeing bekerjasama dengan Pusat Riset Langley NASA. 

Pesawat super jumbo ini akan memiliki bentuk sayap sepanjang 265 kaki dibanding 211 kaki pada pesawat Boeing 747. 

Bentuk sayap ini dirancang sesuai dengan terminal yang baru dibuat khusus untuk menyaingi Airbus A380 berkapasitas 555 tempat duduk, yang lebar badannya 262 kaki. Pesawat baru yang dinamakan Boeing 797 ini merupakan respons langsung atas Airbus A380 yang mendapat order sebanyak 159, tapi belum beroperasi membawa penumpang.

Boeing memutuskan mematikan super jumbo 747-nya tahun 2003 setelah perusahaan penerbangan kurang tertarik dengan pesawat jenis itu, tapi terus mengembangkan jenis pesawat super jumbo 797 selama bertahun-tahun di fasilitas riset Paberik Phantom di Long Beach, California, AS.

Airbus A380 telah diproduksi sejak 1999 dan mencapai biaya produksi sebesar 13 miliar dolar AS. Boeing kini berpeluang meraih keuntungan besar setelah Airbus A380 dirombak ke pesawat tubular model lama untuk masa mendatang. 

Ada beberapa keuntungan besar pada desain sayap campuran, terpenting sebagai daya angkut dengan rasio kenaikan diperkirakan mencapai 50 persen, dengan bobot menyeluruh kurang 25 persen, sehingga menjadikan 33 persen lebih efisien dari pesawat Airbus A380. Ini membuat investasi Airbus sebesar 13 miliar dolar tampak sedikit goyah.

Dengan rigiditas bodi yang tinggi sebagai faktor utama pada pesawat bersayap campuran, ini bisa mengurangi turbulansi dan membuat sedikit ramping sehingga menambah efisiensi. Pesawat Boeing 797 ini bisa menempuh jarak 8.800 mil laut dengan kapasitas penumpang 1000 orang dan terbang dengan kecepatan 654 mil per jam.